Minggu, 14 Februari 2010

STRES PADA KORBAN PENGGUSURAN: Studi Kasus Warga Korban Penggusuran Stren Kali Jagir Wonokromo Kota Surabaya

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu kenyataan yang lekat mengiringi hubungan negara (state) dan rakyat (society) khususnya di daerah (kota/kabupaten) yang mempunyai jumlah kepadatan penduduk adalah penggusuran, mulai penggusuran Pedagang Kaki Lima (PKL) sampai pada rumah-rumah penduduk. Bahkan kenyataan penggusuran menjadi trend kepemimpinan dan dijadikan ukuran keberhasilan dalam memimpin.
Kota Surabaya sebagai kota dengan jumlah kepadatan penduduk lebih banyak dari kota/kabupaten lain di propinsi Jawa Timur, kenyataan penggusuran bukan merupakan kemustahilan. Bahkan kasus penggusuran Pedagan Kaki Lima (PKL) di Jl. Jenderal Soedirman memakan korban seorang bayi .
Selain itu, penggusuran juga dilakukan pada rumah warga yang berada disepanjang bantaran sungai Stren Kali Jagir Wonokromo pada tanggal 4 Mei 2009. Kasus ini berawal dari penilain bahwa air sungai yang tidak jauh dari pemukiman warga dianggap tidak dijaga dan dicemari oleh warga sekitar. Sedangkan disisi lain, langkah penggusuran adalah sebagai upaya pemerintah kota untuk menyelamatkan air baku yang akan diolah jadi air minum warga Kota Surabaya. Data Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya menyebutkan, kandungan air di Sungai Jagir sudah sangat keruh. Bahkan air tersebut juga sudah kena rembesan (interusi) air laut sehingga rasanya pun menjadi payau .
Dengan alasan kondisi air dan melanggar sempadan sungai pada bulan Maret tahun 2002 rumah-rumah warga yang sudah puluhan tahun bermukim di stren kali Wonokromo digusur. Sementara pengaturan tentang sempadan sungai hanya diatur dalam SK Gubernur Jatim No 134/1997. Kenyataan penggusuran tidak hanya berhenti pada tahun 2002, pada tanggal 4 Mei 2009 pemerintah Kota Surabaya dengan barisan satpol PP melakukan penggusuran. Akibatnya sebanyak 380 bangunan digusur dan 425 KK kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha.
Terlepas dari pro kontra latar belakang penggusuran dan kedudukan dalam hukum, penggusuran sudah barang tentu menimbulkan ketidak menentuan kondisi psikis warga stren kali. Terbukti perasaan ketakutan selalu membayang-bayangi warga stren kali jagir wonokromo seperti yang diberitakan Jatim Prov:

Rumah dipinggir sungai seperti stren kali ini perasaan warga selalu dihinggapi rasa was-was, jangan-jangan aka nada penggusuran. Apalagi sejak tahun 2002 tanah tempat rumah warga sudah menjadi titik perdebatan. Maka dari itu, rata-rata warga stren kali jagir yang tinggal dipinggir kali hidupnya tidak tentram karena sewaktu-waktu bisa mengalami penggusuran. Apalagi tanah yang kita tempati masih berstatus tanah milik Negara.

Selain selalu dihinggapi perasaan takut, psikologi warga dihinggapi perasaan sangat tertekan hingga menyebabkan kematian salah satu korban. Anik Marwati, 27 tahun, salah satu korban penggusuran Stren Kali Jagir Wonokoromo menghembuskan nafas terakhir pada jam 08.30 WIB tanggal 23 Mei 2009. Menurut Aman (orang tua anik) meninggalnya Anik diduga akibat stres yang dialami pasca penggusuran. Saat itu, rumah yang ditempati Anik bersama dua anaknya –Farah Sabrina, 3,5 tahun dan Mohammad Al Farabi, 1,5 tahun- ayahnya Aman, ibunya Istiowati dan dua adiknya, hancur lebur digilas backhoe:

Anik awalah benni anak pendiem lek. Marinah penggusuran warga dinna’, roma tade’, lakoh tade’ ben se ekenengennah tade’ kiah, eling jelling Anik riyah akanthah oreng tak beres. Nangis kadibi’ ben se ma sossa de’ keluarga Anik tak andek ngakan (Awalnya Anik bukan anak pendiam dik. Setelah penggusuran, yang menghilangkan rumah, kerja dan tidak punya tempat tinggal, Anik berubah seperti orang tidak waras dan yang sangat menyusahkan keluarga Anik tidak mau makan).

Gambaran kekalutan psikologi warga diatas terus berlanjut hingga termanifestasi pada perilaku agresivitas warga korban penggusuran, berupa penolakan kebijakan relokasi kerumah susun (rusun) Randu Kecamatan Kenjeran. Hasil wawancara yang didapatkan sampai hari penentuan batas terakhir pengambilan kunci rumah susun (rusun) Randu Kecamatan Kenjeran, dari 425 kepala keluarga yang mengambil kunci dan memilih blok tempat tinggal hanya berjumlah 124 KK . Sedangkan di rusun Wonorejo berjumlah 89 KK.
Selain penolakan menempati rusun, sebagian besar warga mendirikan tenda-tenda sementara disekitar reruntuhan pasca penggusuran. Salah satu warga yang bertahan menempati kawasan tersebut adalah Munayah (62). Munayah memilih bertahan karena tidak memiliki tempat tinggal lagi. Apalagi dia mengaku sudah tinggal di tempat tersebut selama 33 tahun.

Setelah dibongkar tempat tinggal yang lain tidak ada, saya harus kemana sedangkan saya menetap di sini selama 33 tahun, mau balik kekampug asal, saudara-saudara sudah tidak ada lagi. Yach suka tidak suka, maka kami tetap bertahan direruntuhan penggusuran rumah kami.


Dengan demikian, 212 KK atau 50% dari jumlah KK warga korban penggusuran stren kali jagir memilih menolak dan tidak mau menempati rusun yang dipersiapkan.
Realitas diatas, dalam pandangan teori kebutuhan bertingkat psikologi humanistik dilatar belakangi oleh asumsi bahwa tindakan penggusuran menjadi ancaman pemenuhan kebutuhan fisiologis (physiological needs) dan kebutuhan akan rasa aman (need for self-security) sehingga bila tidak diimbangi dengan mekanisme pertahanan (defence mechanism), maka akan berpengaruh pada ketidak menentuan kondisi psikologis yang tercermin dari kelainan perilaku sehari-hari.
Dengan demikian, tragedi penggusuran yang berdampak pada ketidak menentuan kondisi psikologis warga korban penggusuran tentu menjadi masalah yang memerlukan langkah-langkah solutif agar normalisasi kondisi psikologis warga minimal kembali pada kondisi sebelum terjadi penggusuran. Namun untuk mempertajam langkah-langkah solutif dipandang perlu menemukan gambaran perasaan tertekan yang dialami oleh warga korban penggusuran.

B. FOKUS PENELITIAN
Berangkat dari latar belakang diatas, maka penelitian ini difokuskan pada jawaban pertanyaan dua pertanyaan dibawah ini, yaitu:
1. Mengapa warga Stren Kali Jagir Wonokromo mengalami gangguan stres?
2. Bagaimanakah gambaran stres yang dialami oleh warga korban penggusuran Stren Kali Jagir Wonokromo tahun 2009?



C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu:
1. Ingin mengetahui latar belakang terjadinya stress warga korban penggusuran Stren Kali Jagir tahun 2009.
2. Ingin mengetahi gambaran stress yang diderita warga korban penggusuran stren Kali Jagir Wonokromo tahun 2009.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan psikologi pada umumnya dan khususnya Psikologi Terapan (Psikologi Lingkungan).
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, dengan penelitian ini diharapkan menjadi masukan pada pemegang kebijakan (policy) untuk menyiapkan langkah-langkah solutif agar tidak berdampak negatif pada kondisi psikologis warga yang menjadi objek kebijakan penggusuran.

E. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Secara garis besar penulisan hasil penelitian ini dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu Bagian Awal, Bagian Inti dan Bagian Akhir. Pada bagian inti terbagi menjadi 5 (lima) bagian, yaitu:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari sub-sub bab, yaitu: (a). Latar belakang, (b). Fokus penelitian (rumusan masalah), (c). Tujuan penelitian, (d). Manfaat dan (e). Sistematika pembahasan.
BAB II : KAJIAN TEORITIK
Memuat sub-sub bab sebagai berikut, yaitu: (a). Definisi stres, (b). Sumber-sumber stres, (c). Gejala stres, (d). Tipe kepribadian rentan stres, (e). Stres menurut jenis kelamin, (f). Tahapan stres (g). Jenis stres penjelasan, (h). Kajian teoritik dan (i). Penelitian terdahulu yang relevan dan searah dengan penelitian ini.
BAB III : METODE PENELITIAN
Sub bab ini terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, subjek penelitian, jenis-jenis dan sumber data, tahap-tahap penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data dan teknik keabsahan data.
BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISA DATA
Berisi tentang data-data dan analisis data yang sudah dikumpulkan. Bab ini terdiri dari gambaran umum tentang objek penelitian, penyajian data, analisis dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V : PENUTUP
Bab ini merupakan penutup dari seluruh bab dengan isi kesimpulan dan saran penelitian berikutnya.

BAB II
KERANGKA TEORI

A. STRES
1. Definisi Stres
Sudah menjadi kewajaran dalam dunia ilmiah (ilmu pengetahuan) terjadi silang pendapat. Karena esensi perbedaan pada dasarnya menjadi pelengkap kekurangan dan penyempurna sesuatu yang diperdebatkan. Berangkat dari prinsip kewajaran diatas, maka para ilmuwan dalam mendefinisikan stres tidak menemukan kata pendapat.
Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Kamus Psikologi meninjau kata stres dari bahasa (harfiah) memberikan definisi stres dengan ketegangan, tekanan batin dan konflik . Oleh karena itu, dalam pandangan Kartono dan Gulo stres mempunyai arti:
a. Satu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis atau fisiologis dari suatu organisme.
b. Sejenis frustasi dimana aktivitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu oleh atau dipersukar tetapi terhalang-halangi; peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was-was, khawatir dalam mencapai tujuan.
c. Kekuatan yang diterapkan pada suatu sistem, tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi.
d. Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan (anxity).
Berbeda dengan Kartini Kartono, ilmuwan berkebangsaan Austria Hans Hugo Bruno Selye dengan melihat dari aspek fisiologis mengartikan stres sebagai respon tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan (the non specific response of the body to any demand). Dalam arti ini, Hans Selye menjelaskan bahwa stimulus lingkungan yang mengakibatkan stres tidak tunggal, tetapi semua tergabung dalam suatu susunan total yang mengancam keseimbangan (homoistatis) individu.
Hans Selye mengembangkan konsep yang dikenal dengan Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrom) yang menjelaskan bila seseorang pertama kali mengalami kondisi yang mengancam, maka mekanisme pertahanan (defence mechanism) pada tubuh diaktifkan. Kelenjar-kelenjar tubuh memproduksi sejumlah adrenalin cortisone dan hormon-hormon lainnya serta mengkoordinasikan perubahan-perubahan pada sistem saraf pusat. Jika tuntutan-tuntutan berlangsung terus, maka mekanisme pertahanan diri berangsur-angsur akan melemah, sehingga organ tubuh tidak beroperasi secara adekuat. Jika reaksi-reaksi tubuh kurang berfungsi dengan baik, maka hal itu merupakan awal kemunculan penyakit gangguan adaptasi. Penyakit-penyakit tersebut muncul dalam bentuk maag, serangan jantung, tekanan darah tinggi atau keluhan-keluhan psikosomatik lain.
Sedangkan Robert S. Fieldman (1989) mencoba mengartikan stres sebagai proses penilaian suatu peristiwa dan dianggap mengancam, menantang atau membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Peristiwa yang memunculkan stres dapat saja positif (misalnya merencanakan perkawinan) atau negatif (misal kematian keluarga). Sesuatu didefinisikan sebagai peristiwa yang menekan (stressfull event) atau tidak tergantung pada respon yang diberikan oleh individu
Lebih jauh Benjamin B. Lahey mendefinisikan Stres sebagai penekanan pada peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi negatif yang dialami individu yang dapat menimbulkan efek yang tidak teratur pada perilakunya .
Oleh karena itu, Luthans mendefinisikan stres sebagai suatu tanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau peristiwa yang terlalu banyak mengadakan tuntutan psikologis dan fisik seseorang .
Sedangkan Lazarus dan Folkman, mendefinisikan stres psikologis sebagai sebuah hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai sebagai beban, sangat melampaui kemampuan seseorang dan membahayakan kesejahteraannya . Jadi, dalam pandangan Lazarus dan Folkman, stres merupakan hasil proses interaksi timbal balik antara individu dengan lingkungan yang melibatkan peran kognisi individu untuk menilai dan bila lingkungan tersebut dinilai membahayakan kesejahteraan individu, maka akumulasi ketegangan, kekalutan dan beban muncul dalam psikis individu.
Dari definisi diatas dapat digaris bawahi bahwa bahwa stres merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan sebuah peristiwa yang dianggap menekan, mengancam dan membahayakan kesejahteraan individu baik secara fisiologis, emosional, kognitif maupun perilaku. Dengan demikian, mengacu pada teori tersebut bila peristiwa penggusuran dianggap mengancam dan membahayakan kesejahteraan warga, maka peristiwa tersebut menjadi pemicu stres warga yang menjadi korban penggusuran.

2. Sumber Stres
Sumber stres adalah keadaan, situasi, lingkungan, obyek atau individu yang dapat menimbulkan ketegangan. Secara umum menurut Sarlito Wirawan stresor dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
a. Stresor fisik; panas, dingin, suara bising, kondisi dan peralatan kerja yg buruk, polusi udara, keracunan makanan, dan obat-obatan.
b. Stresor sosial; dalam kehidupan sehari-hari stresor sosial bersumber dari himpitan sosial ekonomi, politik dan budaya. Di lingkungan keluarga bisa datang dari over lapingnya peran jenis kelamin (sex-role), iri, cemburu, kematian anggota keluarga, masalah keuangan dan nilai-nilai yang lain. Dalam hubungan interpersonal dan lingkungan bisa terjadi karena harapan sosial tidak terpenuhi, pelayanan yang buruk dan hubungan bawahan–atasan.
c. Stresor psikologis; frustrasi, ketidak pastian atau keraguan akan masa depan, rasa bersalah, khawatir dan inferior.
Sedangkan menurut Robbins ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya stres yaitu:
a. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh pembentukan struktur organisasi (pemerintah kota; baca) yang tidak sehat terhadap warga.
Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stres bagi masyarakat yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena ada penyesuaian terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stres. Hal ini dapat terjadi, misal perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu singkat dengan menggunakan teknologi.
b. Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stres yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure dan organizational leadership.
Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam tata kehidupan Kota yang tidak jelas dalam suatu sistem Negara akan mempengaruhi peranan seorang untuk memberikan hasil akhir yang ingin dicapai bersama.
2. Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh orang lain dalam kehidupan bersama. Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara warga dengan birokrasi (eksekutif dan legislative) akan dapat menyebabkan komunikasi tidak sehat.
3. Struktur Pemerintahan
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam pemerintahan dimana keputusan tersebut dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan maka akan dapat mempengaruhi psikologi warga.
4. Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan (wali kota; baca) dalam suatu pemerintahan. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan Group dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau menekankan pada hubungan langsung antara pemimpin dengan yang dipimpin serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau menekankan pada pencapaian visi misi yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Empat faktor di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur tingginya tingkat stres. Pengertian dari tingkat stres itu sendiri adalah muncul dari adanya kondisi-kondisi suatu masalah yang tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan, batasan-batasan, atau permintaan-permintaan dimana semuanya itu berhubungan dengan keinginannya dan dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak pasti tapi penting.
c. Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan.
Kemudian dengan bahasa lebih sederhana Kusumato mengklasifikasikan sumber stres yang dapat menjadi pemicu kemunculan stres pada individu menjadi 2 (dua), yaitu :
a. Stresor atau frustasi eksternal (frustasi = kekecewaan yang mendalam).
Stresor eksternal berasal dari luar diri seseorang. Misalnya perubahan bermakna dalam suhu lingkungan, perubahan peran dalam keluarga atau lingkungan sosial, tekanan dari pasangan dan lain sebagainya.
b. Stresor atau frustasi internal
Stresor internal berasal dari dalam diri individu. Misalnya demam, kondisi seperti kehamilan atau menopause atau suatu keadaan emosi seperti rasa bersalah dan tertekan.

3. Gejala Stres
Menurut Robert S Fieldman dalam Fitri Fausiyah stres adalah suatu proses penilaian peristiwa yang dianggap mengancam, menantang ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa tersebut pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku .
Sedangkan menurut Taylor stres dapat menghasilkan berbagai respon. Kebanyakan peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu :
a. Respon fisiologis; dapat ditandai dengan peningkatan tekanan darah, detak jantung, detak nadi dan sistem pernapasan.
b. Respon kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu seperti pikiran menjadi kacau, daya konsentrasi menurun, pikiran berulang dan pikiran tidak wajar.
c. Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang dialami individu seperti takut, cemas, malu dan marah.
d. Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan dan fight menghindari situasi yang menekan.
Berbeda dengan Taylor, Greg Wilkinson berpendapat bahwa awal gejala stres terlihat dari perubahan dalam emosi atau perilaku dalam mereaksi stimulus dan sewaktu-waktu perubahan itu tampak nyata pada orang lain tanpa disadari oleh diri sendiri .
Tabel 2.1 Rekasi Stres dari Greg Wilkinson
NO REAKSI EMOSI REAKSI FISIK REAKSI PERILAKU
1 Merasa tertekan Otot-otot tegang, jantung berdebar-debar, lebih cepat atau tidak teratur Suka menyendiri, ketergantungan, ragu-ragu, egois, pendiam dll.
2 Merasa tegang dan tak bisa rileks Pernapasan lebih cepat dan pendek, berkeringat, biji mata membesar
3 Merasa lelah secara mental Kewaspadaan yang berlebihan, perubahan nafsu makan
4 Merasa takut dan khawatir Otot melemah atau bergetar, rasa mual
5 Meningkatnya kejengkelan dan keluhan Sulit tidur, gugup, sakit kepala, tangan dan kaki lemas
6 Merasa adanya konflik, frustasi dan ingin marah Gangguan percernaan, sering ingin buang air kecil
7 Gelisah, semakin tidak bisa konsentrasi atau menyelesaikan masalah dengan cepat Sesak dada, rasa sakit atau nyeri yang tak jelas
8 Sering menangis, menjadi lebih rewel, muram, atau curiga Sembelit atau diare, lelah dan lemas
9 Sulit mengambil keputusan, keinginan untuk lari dan bersembunyi, takut akan jatuh pingsan atau mati mendadak Sakit lama yang memburuk, resah dan gelisah terus, sakit punggung, kesemutan
10 Takut dipermalukan atau gagal, berkurangnya kemampuan untuk merasakan senang atau gembira Mulut dan tenggorokan kering, lambung serasa tertusuk-tusuk.

Gejala-gejala lain yang terlihat dari orang yang sedang mengalami stress, antara lain :
a. Cemas
b. Depresi
c. Makan berlebihan
d. Berpikir Negatif
e. Tidur berlebihan
f. Diare
g. Konstipasi atau sembelit
h. Kelelahan yang terus menerus
i. Sakit kepala
j. Kehilangan nafsu makan
k. Marah
l. Tegang
m. Mudah tersinggung
n. Gatal-gatal
o. Alergi
p. Merokok
q. Nyeri persendian
r. Berdebar-debar
s. Sesak napas
Selain itu, menurut Aat Sriati stres juga bisa dilihat dari perubahan anggota tubuh, diantaranya :
a. Rambut; warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum waktunya demikian pula dengan kerontokan rambut.
b. Mata; ketajamn mata seringkali terganggu. Misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
c. Telinga; pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus)
d. Daya pikir; kemampuan daya pikir, mengingat dan konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali megeluh sakit kepala.
e. Ekspresi wajah; wajah seseorang yang sedang megalami stres tampak tegang, dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa dan kulit muka berkedutan (tic facialis)
f. Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum; tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar menelan. Hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa tercekik.
g. Kulit; pada orang yang sedang mengalami stres kulit bermacam-macam. Pada kulit sebagian tubuh terasa panas, dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit yang berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain itu, kulit rentan terjangkit penyakit seperti munculnya eksim, urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan; juga sering dijumpai kedua belah tangan dan kaki berkeringat (basah).
4. Ciri Kepribadian Rentan Stres
Beberapa ciri kepribadian yang rentan terkena gangguan stres adalah sebagai berikut :
a. Ambisius, agresif dan kompetitif (suka akan persaingan).
b. Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah (emosional).
c. Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan (over confidence)
d. Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam
e. Bekerja tidak mengenal waktu (workaholic)
f. Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah (otoriter)
g. Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan
h. Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang (tidak rileks), serba tergesa-gesa
i. Mudah bergaul (ramah), pandai menimbulkan perasaan empati dan bila tidak tercapai maksudnya mudah besikap bermusuhan
j. Tidak mudah dipengaruh, kaku (tidak fleksibel)
k. Bila berlibur pikirannya ke pekerjaannya, tidak dapat santai
l. Berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali



5. Stres Ditinjau dari Jenis Kelamin
a. Stres pada Wanita
Fluktuasi estrogen dalam tubuh wanita dapat membuat perasaannya berubah-ubah. Selama masa stres, kadar estrogen menurun. Kelenjar adrenalin menghasilkan hormon stres lebih banyak dari pada estrogen.
Selama fase ini, ketika kadar estrogen menurun, terjadi pembentukan plak pembuluh darah yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung. Setelah mencapai masa menopause, kadar estrogen pada wanita menurun hingga 80 %. Ini adalah masa titik balik yang penting pada kehidupan wanita. Banyak perubahan besar terjadi seperti muka kemerahan dan terasa panas, masa tulang yang rendah hingga mengalami osteoporosis. Selain itu estrogen melindungi sistem jantung dan pembuluh darah sampai pada masa menopause. Setelah menopause, wanita terjadi rentan terhadap masalah jantung yang kemungkinan sama dengan pria.
b. Stres pada Lelaki
Kemungkinan kadar testrosteron berpengaruh pada stres fisik dan psikologis. Testrosteron adalah hormon yang member tanda maskulinitas pada pria seperti rambut, suara berat dan figur tubuh.
Testrosteron berkaitan dengan dominan pria. Hormon ini juga berkaitan dengan pola pikir sifat mereka dengan wanita. Cara mereka belajar rasionalitas dan keengganan menunjukkan perasaan merupakan ciri khas pria. Kedua jenis kelamin ini memang benar-benar berbeda, baik secara fisik maupun mental .

6. Tahapan Stres
Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Robert J dan Amberg dalam penelitiannya yang terdapat dalam Hawari membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :
a. Stres Tahap Pertama
Tahapan ini merupakan tahapan stres paling ringan dan biasanya disertai dengan tiga perasaan, yaitu pertama semangat bekerja besar, berlebihan (over acting). Kedua penglihatan tajam, tidak sebagaimana biasanya. Ketiga merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.
b. Stres Tahap Dua
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula menyenangkan sebagaimana diuraikan pada tahap pertama di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stress tahap dua adalah sebagai berikut: (1). Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; (2). Merasa mudah lelah sesudah makan siang; (3). Lekas merasa capai menjelang sore hari; (4). Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); (5). Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar); (6). Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang; dan (7). Tidak bisa santai.
c. Stres Tahap Tiga
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap dua, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: (1). Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan maag (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare), (2). Ketegangan otot-otot semakin terasa, (3). Perasaan ketidak tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat, (4). Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia), dan (5). Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan).
Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.
d. Stres Tahap Empat
Gejala stress tahap empat akan muncul dengan beberapa indikasi, yaitu (1). Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit; (2). Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; (3). Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); (4). Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; (5). Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan; (6). Daya konsentrasi daya ingat menurun; (7). Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.
e. Stres Tahap Lima
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap lima, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: (1). Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); (2). Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; (3). Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal disorder); (4). Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.
f. Stres Tahap Enam
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stress tahap enam ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap enam ini adalah sebagai berikut: (1). Debaran jantung teramat keras; (2). Susah bernapas (sesak dan megap-megap); (3). Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; (4). Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; (5). Pingsan atau kolaps (collapse).
Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
Menurut Hans Selye stres adalah respon tubuh yang bersifat non spesifik terhadap setiap tuntutan beban diatasnya. Selye memformulasikan konsepnya dalam General Adaption Syndrome (GAS) yang berfungsi sebagai respon otomatis, respon fisik dan respon emosi pada individu . Selye mengemukakan bahwa tubuh kita bereaksi sama terhadap berbagai sumber stresor yang tidak menyenangkan baik stres berupa serangan bakteri mikroskopis, penyakit karena organisme, perceraian maupun kebanjiran. Model GAS menyatakan bahwa dalam keadaan stres, tubuh kita seperti jam dengan sistem alarm yang tidak berhenti sampai tenaganya habis.
Respon GAS ini dibagi dalam tiga fase, yaitu:
a. Reaksi Waspada (alarm reaction stage)
Reaksi waspada adalah persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba akan munculnya reaksi tiba-tiba. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endoktrin dan cabang simpatis dari sistem saraf autonom. Reaksi ini disebut juga reaksi berjuang atau melarikan diri (figth or fight reaction).
b. Reaksi Resistensi (Resintensi Stage)
Reaksi resistensi adalah tahap dimana tubuh berusaha untuk bertahan menghadapi stress yang berkepanjangan dan menjaga sumber-sumber kekuatan (membentuk tenaga baru dan memperbaiki kerusakan). Merupakan tahap adaptasi dimana sistem endoktrin dan sistem simpatis tetap mengeluarkan hormone-hormon stres tetapi tidak setinggi reaksi waspada.
c. Reaksi Kelelahan (Exhaustion Stage)
Rekasi kelelahan adalah fase penurunan resistensi, meningkatnya aktivitas para simpatis dan kemungkinan deteriorasi fisik. Kondisi demikian terjadi apabila stresor tetap berlanjut atau terjadi stresor baru yang dapat memperburuk keadaan.
Tahap kelelahan ditandai dengan dominasi cabang parasimpatis dari ANS. Sebagai akibatnya, detak jantung dan kecepatan nafas menurun. Apabila sumber stres menetap, kita dapat mengalami penyakit adaptasi (disease of adaptation), penyakit yang rentangya panjang, mulai dari reaksi alergi sampai penyakit jantung bahkan sampai kematian.

7. Jenis Stres
Quick dan Quick mengkategorikan jenis stres menjadi dua macam, yaitu :
a. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stress yang bersifat sehat, positif dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi dan tingkat performance yang tinggi.
b. Distress; yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidak hadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan dan kematian.

B. KERANGKA TEORITIK
Lazarus dan Folkman, mendefinisikan stres psikologis sebagai sebuah hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai sebagai hal yang membebani atau sangat melampaui kemampuan seseorang dan membahayakan kesejahteraannya .
Dari pengertian Lazarus dapat dimengerti bahwa stres pada dasarnya merupakan rangkain dari tiga komponen, yaitu input – process – output. Oleh Karen itu dalam memahami tentang stres, maka diperlukan tiga pendekatan, yaitu stres sebagai stressor, stress sebagai respon/reaksi, dan stres sebagai proses.
Stressor merupakan sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya suara bising, panas, kepadatan penduduk atau kasus penggusuran seperti yang dialami warga stren kali. Sedangkan respon stres adalah reaksi yang melibatkan komponen emosional, fikiran, fisiologis dan perilaku. Selanjutnya proses merupakan transaksi antara stressor dengan kapasitas diri. Oleh karean itu, istilah stres tidak hanya merujuk pada sumber stres, respon terhadap sumber stres saja, tetapi keterkaitan antara ketiganya.
Secara sederhana stres dapat disintesakan sebagaimana terlihat dalam bagan dibawah ini:


Bagan 2.2 Model Bagan diadopsi dari Fisher, 1984.









Stres secara berurutan diawali dari stresor (sumber stres) yang berupa peristiwa-peristiwa diluar individu kemudian individu melakukan proses penilaian stresor yang melibatkan komponen emosi, kognisi, dan psikomotorik. Pada fase ini, individu menggolongkan (kategorisasi) jenis stressor kedalam stressor mengancam atau membahayakan.
Menurut Alfin Fadilla Helmi proses penilain individu pada stresor terdiri atas dua, yaitu penilaian primer dan penilaian sekunder. Penilaian primer merupakan proses evaluasi situasi apakah sebagai sesuatu yang mengancam, membahayakan ataukah menantang. Sedangkan penilaian sekunder merupakan evaluasi terhadap sumber daya yang dimiliki baik dalam arti fisik, psikis, social maupun materi. Proses penilaian primer dan sekunder akan menentukan strategi koping, yaitu proses untuk mengelola tuntutan baik internal maupun eksternal yang diterima individu .
Strategi coping dapat diklasifikasikan dalam direct action (pencarian informasi, menarik diri atau mencoba menghentikan stresor) atau bersifat palliative yaitu menggunakan pendekatan psikologis (merasionalisasi, meditasi, menilai ulang situasi). Jika respon coping tidak adekuat mengatasi stressor padahal semua energi telah dikerahkan, maka individu tersebut akan masuk pada tahap kelelahan. Namun bila individu sukses, maka individu tersebut sukses melakukan adaptasi yang berkonsekuensi pada pengeluaran biaya sekaligus berbanding lurus dengan manfaat yang bias dipetik.
Tahap selanjutnya individu akan memasuki tahap reaksi tanda bahaya, resistensi dan tahap kelelahan. Tahap reaksi adalah tahap dimana tubuh secara otomatis menerima tanda-tanda bahaya stressor hasil dari proses penilaian. Tahap resistensi atau proses stres tidak hanya bersifat otomatis hubungan antara stimulus respon, tetapi peran-peran kognisi sudah mulai muncul.

C. PENELITIAN TERDAHULU
Ada beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini, yaitu:
1. Dalam sebuah jurnal Anima, 2003, Vol. 18, No. 2, halaman 171-172 memuat penelitian Yulius Yusak Ranimpi dengan judul “Konflik Sosial dan Gangguan Stres Pasca-trauma: Suatu Pendekatan Teoritis”. Krisis ekonomi pada tahun 1997 telah merambat ke bidang sosial, politik, budaya, pendidikan, dan bahkan krisis kemnusian. Kondisi ini dikenali dengan krisis multidimensi. Masyarakat yang semula ramah-ramah kini berubah menjadi masyarakat yang sangat rentan terhadap provokasi untuk melakukan tindakan destruktif. Kemampuan untuk mengendalikan diri mengalami gangguan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui dampak psikologis yang diakibatkan krisis multidimensi Negara Indonesia pada tahun 1997. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif diskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam (deep investigation), pengamatan langsung (partisipative observation) dan dokumentasi. Hasil wawancara menunjukkan berbagai dimensi kekerasan meruapakan sumber ketegangan dan kecemasan serta dapat mendatangkan kekalutan psikologi.
2. Disertasi karya Meutia Farida Hatta Swarsono, Universitas Indonesia (2001) dengan judul “Proyek Pembangunan, Pemindahan Kampung dan Stres pada Masyarakat Marunda Besar, Jakarta Utara. Penelitian disertasi ini mengkaji masalah kesehatan jiwa, khususnya masalah stress yang dialami oleh penduduk miskin yang tergusur oleh proyek pembangunan yang dilaksanakan ditempat tinggal mereka.
Penelitian ini mengacu kepada metode teoritis yang dihasilkan oleh D.P. Lumsden mengenai system terbuka yang mengalami stress (amnen system under stress) dan teori integrasi-disintegrasi social-budaya yang diajukan oleh A.H. Leighton. Data dikumpulkan dengan instrument Daftar isian Kesehatan Cornell Medical Index (CMI) yang telah dimodifikasi oleh Direktorat Kesehatan Jiwa, Depkes RI untuk digunakan di Indonesia.
Dengan modifikasi budaya masyarakat Marunda Besar, dapat dihasilkan 73 orang dari 166 orang responden (43,98%) yang mengalami gangguan psikofisiologi yang bermakna. Perhitungan korelasi antara skor disintegrasi social-budaya dan skor CMI lebih rendah (0,271) dari pada penemuan hasil penelitian Leighton (0,45).
3. Skripsi yang ditulis Paramita, Universitas Atma Jaya Jakarta (2006), dengan judul “Hubungan antara Social Support dan Stres Pada Polisi Lalu Lintas (Studi Pada Polisi Lalu Lintas Wilayah Kerja Semanggi, Jalan Sudirman, dan Jalan Thamrin – Jakarta)
Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan metode kuantitatif. Subyek penelitian adalah Polisi Lalu Lintas berusia 40 – 55 tahun, bekerja sebagai Polisi Lalu Lintas minimal 1 tahun, dan telah menikah. Penelitian ini merupakan penelitian dengan mengambil data tryout terlebih dahulu di beberapa Kepolisian Resort, dan sampel sesungguhnya adalah Polisi Lalu Lintas wilayah kerja Semanggi, Jalan Sudirman, dan Jalan Thamrin.
Dari hasil uji reliabilitas didapatkan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0.8466.Hasil penelitian menyimpulkan ada hubungan positif yang signifikan antara social support dan stres sebesar 0.48 pada Polisi Lalu Lintas wilayah kerja Semanggi, Jalan Sudirman, dan Jalan Thamrin – Jakarta.
Hubungan positif siginifikan juga berlaku pada hubungan antara tangible support dan stres sebesar 0.49, hubungan antara appraisal support dan stres sebesar 0.35. Hal ini diartikan bahwa semakin Banyak social support yang diterima subyek, maka semakin tinggi pula stres yang dialaminya, demikian pula sebaliknya. Sedangkan hubungan positif namun tidak signifikan terdapat pada hubungan belonging support dengan stres sebesar 0.34, dan hubungan self-esteem support dengan stres sebesar 0.1. Dari sini nampak bahwa peran social support terhadap stres dipengaruhi oleh kedekatan, hubungan timbal balik, dan adanya rentang pilihan (Terry et, al.,1995,dan Sheridan, 1992). Kedekatan dengan pihak lain dapat saling menularkan stres.
Melalui penelitian terdahulu, dipastikan menambah refensi lebih banyak dan bahan perbandingan pada proses penelitian ini. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekuarangan. Dengan penelitian terdahulu, penelitian ini mempunyai kesamaan konsep atau tema yang diteliti, yaitu upaya menggambarkan tingkat stress yang dihadapi oleh individu dalam menghadapi stresor sosial. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada metode penelitian yang digunakan, sedangkan penelitian Yulius berbeda dari sisi stresor dan kajian penelitian. Bila dalam penelitian Yulius menggunakan kajian pustaka (literer), maka dalam penelitian ini menggunakan kajian lapangan langsung.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN
Sesuai dengan pertanyaan penelitian, maka metode yang tepat untuk penelitian ini adalah studi kasus. Yin mendefinisikan penelitian studi kasus sebagai penelitian empiris yang menyelidiki suatu fenomena (gejala) kontemporer dalam konteks senyatanya (real-life) dimana batas-batas antara fenomena dan konteks tersebut masih belum jelas . Berikut ini adalah alasan digunakanya metode studi kasus berkaitan dengan masalah yang diselidiki dalam penelitian ini:
1. Stres masyarakat perkotaan menurut Sarlito W. Sarwono banyak menarik perhatian semua kalangan untuk mengetahui lebih jauh . Disamping itu, stres yang dipicu oleh tekanan problem sosial (penggusuran) merupakan masalah kontemporer yang membutuhkan pemecahan.
2. Gejala dan konteks yang terjadi dalam penggusuran dalam situasi senyatanya belum jelas. Peneliti tidak memanipulasi sedikitpun terhadap gejala yang sudah maupun akan terjadi akibat kebijakan penggusuran.



B. SUBJEK PENELITIAN
Salah satu krakteristik dan kekuatan utama dari studi kasus adalah memanfaatkan berbagai sumber dan teknik mengumpulkan data. Dengan demikian teknik cuplikan (sampling) dalam penelitian ini bersifat bertujuan (purposive). Sehingga, yang menjadi subyek penelitian (informan) adalah mereka yang diangap dapat memberikan informasi yang memadai berkaitan dengan pertanyaan penelitian ini. Kriteria dalam memilih dan menentukan subjek adalah:
1. Tercatat sebagai warga stren kali dengan bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga penduduk Kota Surabaya
2. Jenis kelamin laki-laki atau perempuan
3. Menolak relokasi dan uang ganti rugi
Jumlah KK yang menolak relokasi dan tidak menerima uang ganti rugi sebanyak 212 KK. Namun pemilihan subjek pada penelitian ini didasarkan pada alasan penolakan relokasi, yaitu karena salah satu keluarga subjek meninggal dunia dan sakit keras terkena siraman air panas saat penggusuran.
4. Etos kerja menurun , berperilaku murung dan mempunyai tekanan perasaan khawatir dengan peristiwa penggusuran.
Berdasarkan observasi awal pada aktivitas subjek penelitian, empat bulan setelah penggusuran, subjek tidak mempunyai inisiatif merencanakan atau memulai usaha ekonomi baru . Bahkan subjek terlihat lemas dan sedikit bicara.
Mengacu pada kriteria tersebut, peneliti mendapatkan subjek penelitian dengan tiga cara, yaitu: pertama meminta teman yang mempunyai saudara korban penggusuran Stren Kali Jagir, kemudian peneliti meminta diperkenalkan dengan Ibu Maryam (subjek kedua). Kedua wawancara awal dengan Achmad Afandi warga stren kali yang sebelumnya dikenal peneliti. Ketiga berdiskusi dengan kolega di LSM Jerit yang akhirnya memperkenalkan peneliti dengan sunardji (subjek ketiga).
Selain itu, untuk mengungkap gambaran utuh tentang stres ketiga subjek peneliti memilih beberapa informan yang didasarkan pada keintiman hubungan baik kekerabatan maupun pertemanan. Dari prinsip ini, peneliti menetapkan Muhdlor Ali (keponakan), Aman dan Anik (mertua Achmad Afandi) sebagai informan untuk mendukung keterangan tentang Achmad Fandi. Sedangkan Mat Jeli, Suami Ibu Maryam ditetapkan sebagai informan untuk memperoleh keterangan utuh tentang Ibu Maryam, Kang Hudi (teman dekat Sunardji) menjadi informan subjek ketiga, dan Camat wonokromo, Edy Cristijanto dimaksudkan sebagai informan gambaran dan latar belakang penggusuran.



C. JENIS DAN SUMBER DATA
1. Jenis Data
Jenis data penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu pertama primer, yaitu jenis data baik berupa kata maupun perilaku dari subjek yang menggambarkan stres. Hal ini diperoleh dengan wawancara dan observasi perilaku subjek penelitian. Kedua data sekuder, yaitu informasi dari informan yang mendukung perubahan perilaku dan atau stres yang dialami subjek.
2. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Person, yaitu subjek penelitian Achmad Afandi (AA), Ibu Maryam (IM), Sunardji (SR) dan informan penelitian, yaitu Muhdlor Ali (MA), Aman dan Anik (AM), Mat Jeli (MJ) dan Kang Hudi (KH).
b. Place, yaitu perilaku dan ruangan berperilaku.
c. Paper, yaitu sumber data yang berupa tulisan, catatan dan documen dari kecamatan wonokromo dan Paguyuban Warga Stren Kali.
D. TAHAPAN-TAHAPAN PENELITIAN
Secara umum tahapan penelitian dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu :


1. Tahap Pra-Lapangan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-lapangan adalah:
a. Merumuskan Rancangan Penelitian.
Setelah menemukan fenomena psikologis, peneliti merumuskan rancangan penelitian atau proposal yang memuat latar belakang masalah dan alasan penelitian, studi pustaka, menentukan lokasi penelitian, penentuan jadwal penelitian, pemilihan alat penelitian, rancangan pengumpulan data, rancangan prosedur analisa data, rancangan perlengkapan yang diperlukan di lapangan, dan rancangan pengecekan kebenaran data.
Funsi dari proposal penelitian adalah untuk merencanakan secara sistematis kegiatan penelitian agar lebih terarah dan terealisasi sesuai harapan. Upaya untuk lebih menyempurnakan perumusan dan penyusunan proposal peneliti melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing yang akhirnya diakhiri dengan seminar proposal tanggal 10 November 2009.
b. Menentukan Lapangan Penelitian
Untuk memilih dan menentukan lapangan penelitian, peneliti memilih semua situasi yang sesuai dengan subtansi penelitian kualitatif. Aspek-aspek sosial
c. Mengurus Perizinan
Langkah pertama untuk mendapatkan izin melakukan galian data dari sumber data adalah mengutarakan dan memahamkan maksud dan tujuan hasil penelitian terutama bagi masa depan warga korban penggusuran stren kali jagir 2009.
Pelaksanaan proses ini tidak terlalu rumit karena peneliti dimediasi kawan yang mempunyai ikatan emosional dan ikatan keluarga dengan beberapa warga korban penggusuran stren kali jagir.
d. Analisa Kelayakan Lapangan Penelitian
Pada tahap ini peneliti memetakan semua unsur yang terkait dengan masalah penelitian baik unsur sosial politik (kebijakan), sosial budaya (adat), sosial ekonomi, sosial agama maupun tingkat pendidikan warga korban penggusuran.
Hal tersebut diatas, terealisasi bersamaan dengan pengurusan izin penelitian, tepatnya pada tanggal 13 Oktober 2009.
e. Menentukan Informan
Informan adalah orang yang berfungsi memberikan informasi dan keterangan tentang situasi dan kondisi latar penelitian, baik dengan cara sharing (tukar pikiran) atau membandingkan kejadian dari subjek lain. Dalam penelitian ini, informan yang digunakan sebagai penunjang data adalah Muhdlor Ali (MA), Mat Jeli (MJ) dan Kang Hudi (KH).
f. Menyiapkan Perlengkapan Penelitian
kelengkapan penelitian yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain, yaitu alat tulis (pensil, ballpoint, buku catatan, dll), kamera digital dan tipe recorder (handphone).

2. Tahap Pekerjaan Lapangan
Pada tahap pekerjaan lapangan, pada tahap awal peneliti memahami situasi dan kondisi lapangan penelitian. Menyesuaikan penampilan fisik serta cara berperilaku peneliti dengan norma-norma, nilai-nilai, kebiasaan, dan adat-istiadat tempat penelitian.
Selanjutnya dalam pelaksanaan pengumpulan data tentang pemicu dan gambaran stres warga stren kali yang menjadi korban penggusuran, peneliti menerapkan teknik pengamatan (observation), wawancara (interview), dan dokumentasi secara bersamaan dengan menggunakan alat bantu seperti tape recorder, foto, slide, dan sebagainya.

3. Tahap Analisa Data
Pada analisa data, peneliti mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data menggunakan multi sumber bukti (triangulasi). Artinya untuk menemukan pemicu dan gambaran stres warga stren kali yang menjadi korban penggusuran, peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi secara bersamaan .







1. Observasi Partisipatif
Observasi partisipatif peneliti gunakan untuk mengamati yang dikerjakan, mendengarkan yang diucapkan dan berpartisipasi aktif dalam aktivitas subjek penelitian.
Berpijak pada pendapat Spradley dalam Sugiyono, observasi dalam penelitian ini dibagi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu :
a. Observasi Deskriptif
Dilakukan saat pertama kali memasuki lokasi penelitian. Pada tahap ini, peneliti melakukan deskripsi terhadap semua perilaku subjek.


b. Observasi Terfokus
Termasuk mini tour observation. Artinya pengamatan peneliti difokuskan pada perilaku yang menggambarkan stres tiga subjek penelitian.
c. Observasi Terseleksi
Peneliti menguraikan perilaku yang ditemukan sehingga datanya lebih rigid.
2. Wawancara Mendalam (deep Interviewe)
Proses wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh keterangan pemicu dan gambaran stres warga stren kali yang menjadi korban penggusuran pada tahun 2009 dengan out line yang sudah dipersiapkan untuk menghindari bias dalam penggalian data.
Langkah-langkah dalam wawancara menurut Lincoln dan Guba terdiri dari tujuh tahap, yaitu:
a. Menentukan sasaran wawancara, yaitu subjek dan informan
b. Menyiapkan out line wawancara
c. Mengawali atau membuka alur wawancara dengan ucapan salam
d. Melangsungkan wawancara
e. Mengkonfirmasi ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
f. Menuliskan hasil wawancara kedalam catatan lapangan
g. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.
Alat-alat yang digunakan dalam wawancara adalah buku catatan, notebook (laptop), tape recorder dan camera. Hal ini bermanfaat untuk mencatat dan mendokumentasikan seluruh hasil galian data dari sumber data.
Karena wawancara yang digunakan adalah semi terstruktur, berikut ini adalah rancangan format wawancara yang memuat point-point.
3. Dokumentasi
Catatan peristiwa yang berhubungan dengan pihak yang diteliti baik berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental.

F. TEKNIK ANALISA DATA
Untuk menemukan gambaran yang jelas tentang hasil penelitian agar mudah dipahami dan disimpulkan, peneliti menggunakan konsep analisis data kualititatif yang dikemukakan Spradly. Menurutnya, analisis data dalam penelitian kualitatif disusun dalam beberapa tahapan sebagaimana berikut :
Tabel 3.1: Tahap Analisis Data







1. Analisa Domain
Analisis domain digunakan untuk memperoleh gambaran umum dan menyeluruh tentang perubahan perilaku, emosi dan kesehatan subjek. Setelah peneliti menemukan bentuk perubahan perilaku, emosi dan kesehatan, maka ditetapkan satu domain sebagai pijakan untuk penelitian selanjutnya.
2. Analisis Taksonomi
Analisis taksonomi merupakan upaya menjabarkan domain yang sudah ditetapkan menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internal dengan teknik observasi.
3. Analisis Komponensial
Merupakan usaha mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen baik dengan pengamatan (observasi) maupun dengan pertanyaan (interview).
4. Analisis Tema Budaya
Mencari korelasi antar domain secara keseluruhan kemudian dinyatakan dalam bentuk tema atau judul penelitian.

G. TEKNIK KEABSAHAN DATA
Teknik pengujian keabsahan data dalam penelitian ini meliputi uji credibility (validitas internal), uji validitas eksternal (transferability), reliabilitas (dependability) dan uji objektivitas (confirmability).
Dalam hal ini, karena penelitian ini merupakan studi kasus data tunggal, maka menurut sugiyono dalam menguji validitas dan reliabilitasnya cukup dengan 3 (tiga) uji, yaitu :
1. Uji Kredibiltas (Validitas Internal)
Pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan LSM Jerit dan PKC PMII Jawa Timur, analisis kasus negatif, dan member check.
a. Perpajangan pengamatan
Artinya peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, melakukan wawancara dengan sumber data, baik yang pernah ditemui maupun yang baru ditemui. Dengan perpanjangan pengamatan ini, hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk dan semakin akrab, semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.
Pada tahap awal memasuki lapangan, peneliti masih dianggap orang asing, masih dicurigai sehingga informasi yang diberikan belum lengkap, tidak mendalam, dan mungkin masih banyak yang dirahasiakan. Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah data yang diberikan selama ini merupakan data yang sudah benar atau tidak. Bila data yang telah diperoleh selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain tidak benar, peneliti melakukan pengamatan lagi secara lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya. Lamanya perpanjangan pengamatan ini dilakukan sangat bergantung kepada kedalaman, keluasan, dan kepastian data.
b. Meningkatkan Ketekunan
Berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut, kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Meningkatkan ketekunan ibarat mengecek soal-soal atau makalah yang dikerjakan, ada yang salah atau tidak. Dengan meningkatkan ketekunan itu, peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Selain itu, peneliti juga dapat mendeskripsi data secara akurat dan sistematis.
c. Triangulasi
Dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian, triangulasi terdiri atas triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh dari beberapa sumber tersebut dideskripsikan, dikategorikan, dan akhirnya diminta kesepakatan (member check) untuk mendapatkan kesimpulan. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Triangulasi waktu berkaitan dengan keefektifan waktu. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar dan belum banyak masalah akan memberikan data yang valid sehingga lebih kredibel.
d. Analisis Kasus Negatif
Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Peneliti berusaha mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya.
e. Menggunakan Bahan Referensi
Yang dimaksud dengan bahan referensi adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Bahan referensi ini dapat berupa foto-foto, rekaman, dan dokumen autentik.
f. Member Check
Adalah proses pengecekan data yang berasal dari pemberi data. Ia bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh pemberi data, berarti data tersebut valid sehingga semakin kredibel. Namun, jika data yang diperoleh peneliti tidak disepakati oleh pemberi data, peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data dan apabila terdapat perbedaan tajam setelah dilakukan diskusi, peneliti harus mengubah temuannya dan menyesuaikannya dengan data yang diberikan oleh peneliti. Pelaksanaan member check dapat dilakukan setelah satu periode pengumpulan data selesai atau setelah mendapatkan suatu temuan atau kesimpulan
2. Uji Depandability (Reliabilitas)
Uji Transferability (Validitas Eksternal); Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian kepada populasi tempat sampel penelitian diperoleh. Nilai transfer ini berkenaan dengan pertanyaan sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan dalam situasi yang lain. Bagi peneliti naturalistik, nilai transfer bergantung kepada pemakai.
Agar orang lain dapat memahami hasil penelitian kualitatif sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian tersebut, peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Dengan demikian, pembaca menjadi jelas dalam memahami hasil penelitian tersebut sehingga ia dapat memutuskan dapat atau tidaknya mengaplikasikan hasil penelitian tersebut di tempat lain.
3. Pengujian Dependability (validitas eksternal)
Dependability disebut juga dengan reliabilitas. Penelitian yang reliabel adalah apabila orang lain dapat mengulangi/mereplikasi proses penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, uji dependability ditempuh dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Audit dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing.


BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

A. SETTING PENELITIAN
1. Persiapan Penelitian
Dalam hal ini ada beberapa point penting yang dilakukan oleh peneliti, antara lain:
a. Penentuan Lokasi dan Subjek
Lokasi penelitian didapatkan dari hasil diskusi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jerit, Rumah Demokrasi Indonesia (RDI), Koordinator Cabang PMII Jawa Timur yang melakukan Advokasi kasus penggusuran warga Stren Kali Jagir pada 4 April 2009.
Setelah peneliti menentukan lokasi penelitian, maka peneliti memilih dan menetapkan subjek dengan kriteria yang telah ditetapkan pada penentuan subjek. Identitas subjek sebagai berikut:
Subjek Pertama
Nama : Achmad Afandi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 47 Tahun
Alamat Asal : Desa Kara Kecamatan Torjun Kabupaten Sampang Madura


Subjek Kedua:
Nama : Ibu Maryam
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 39 Tahun
Alamat Asal : Desa Jugosari Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang
Subjek Ketiga:
Nama : Sunardji
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 36 Tahun
Alamat Asal : Desa Curah Banban Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember

b. Persiapan Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini berbentuk semi terstruktur. Oleh Karena itu, peneliti menyiapkan out line (pedoman) wawancara agar proses wawancara terfokus pada data-data yang di ingin diungkap. Data yang ingin diungkap ada dua, yaitu pertama latar belakang stres subjek (stresor). Kedua komponen kelainan perilaku yang dialami subjek pasca penggusuran.
Selain itu, sebelum melakukan wawancara peneliti juga meminta kesediaan subjek dengan menggunakan surat permohonan sebagaimana terlampir.


c. Persiapan Observasi
Observasi dilakukan selama proses wawancara berlangsung. Observasi yang dilakukan lebih difokuskan pada dua aspek, yaitu pertama kelainan perilaku yang dialami subjek sebagai cermin dari kekalutan psikis akibat penggusuran Stren Kali Jagir Wonokromo 2009. Kedua sikap (emosi) subjek.

2. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, sejak bulan oktober sampai bulan Desember 2009. Penelitian terhitung dari pencarian lokasi penelitian, penetapan fenomena psikologis, pencarian literatur, pencarian dan penentuan subjek, proses oberservasi, wawancara dan dokumentasi hingga penyusunan laporan hasil penelitian secara bertahap. Adapun rinciannya sebagai berikut:
Tabel: 4.1
RUN DOWN PENELITIAN
Hari/Tanggal Waktu Proceding Acara Ket
Sabtu, 07 Nov 2009 18.30 – 21.00 WIB 1. Peneliti memperkenalkan diri dan mendeskripsikan maksud dan tujuan
2. Peneliti meminta kesediaan subjek untuk diwawancarai dan di observasi Tempat pengungsian warga stren kali
Sabtu, 14 Nov 2009 16.00 – 22.00 WIB 1. Peneliti menyerahkan form pengisian identitas diri subjek
2. Peneliti melakukan proses wawancara, observasi, Rumah Subjek
Minggu, 15 Nov 2009 08.00 – 21.00 WIB Observasi dan wawancara dengan subjek subjek I dan Informan I, II & III Rumah subjek
Senin, 16 Nov 09 08.30 – 21.00 WIB Observasi dan Wawancara dengan subjek II dan Informan Rumah informan
Selasa, 17 Nov 09 08.30 – 21.00 WIB Observasi dan wawancara subjek ke-III dan Informan Rumah informan
Rabu, 18 Nov 09 18.30 – 22.00 WIB Observasi subjek

B. PENYAJIAN DATA
1. Deskripsi Subjek
Dalam observasi dan wawancara awal, kami mendapatkan beberapa data tentang deksripsi dan latar belakang kehidupan subjek, yaitu:
Subjek I (pertama)
Nama : Achmad Afandi
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat/Tanggal Lahir : Sampang, 21 Mei 1962
Alamat : Jl. Jagir Wonokromo
Hand Phone : 081553382234
Status : Menikah dengan Anik
Agama : Islam
Anak ke : 1 (sulung)
Jumlah saudara : 4 (tujuh)
Nama Istri : Anik
Pekerjaan : Wiraswasta
Nama Anak : 1. Farah Sabrina
2. Mohammad Al Farabi
3. Zainun Nasihin
Riwayat Pendidikan (formal)
1). Sekolah Dasar tidak tamat
Riwayat Pendidikan Agama (Madrasah Diniyah)
1). Sekolah Madrasah Diniyah Miftahul Ulum
2). Pernah nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum
Riwayat Pekerjaan
Tahun Pekerjaan
1980 – 1982 Kuli bangunan
1982 – 1985 Becak dipasar wonokromo
1985 – 1989 Sales
1989 – sekarang Wiraswasta

Riwayat Kesehatan
1). Pernah menderita penyakit maag di usia muda
2). Sering mengeluh sakit kepala
Subjek pertama adalah seorang laki-laki, duda pasca penggusuran –Anik istri tercinta, beberapa hari setelah penggusuran, meninggal dunia- usia setengah baya dengan tiga anak. Walaupun sudah tergolong sukses dibandingkan warga lain, namun dia selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya. Bahkan rumah asal di Stren Kali (depan Mall Mangga dua), bagi seseorang yang mempunyai usaha jasa rental mobil dan rumah kos dibeberapa tempat, tergolong tidak layak huni.
Keseharian Man Pan –panggilan akrab afandi- ketika berinteraksi dengan saudara-saudara, kolega kerja maupun pelanggan rental mobilnya sama sekali tidak menampakkan bahwa dia adalah orang yang berkecukupan disektor ekonomi. Dia hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong, rambut cepak, badan agak pendek, kulit item manggis dan tidak ketinggalan selalu memakai sandal jepit.

Subjek II
Nama : Ibu Maryam
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal Lahir : Lumajang, 05 Agustus 1970
Alamat : Jl. Jagir Wonokromo
Status : Menikah
Agama : Islam
Anak ke : 2 (dua)
Jumlah saudara : 7 (tujuh)
Nama Suami : Mat Jeli
Pekerjaan : Wiraswasta
Nama Anak : 1. Muh. Zaki
2. Siti Hoiriyah
Riwayat Pendidikan (formal)
1). MI. Bustanul Ulum – Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang
Riwayat Pendidikan Agama (Madrasah Diniyah)
1). Sekolah Madrasah Diniyah Bustanul Ulum
2). Pernah nyantri di Pondok Pesantren Bustanul Ulum
Riwayat Pekerjaan
Tahun Pekerjaan
1987 – 1989 Karyawan pabrik rokok sampoerna rungkut
1989 – 1991 Pembantu rumah tangga
1991 – 1998 Karyawan Toko
1998 – sekarang Wiraswasta

Riwayat Kesehatan
1). Pernah menderita penyakit maag di usia muda
2). Sering mengeluh sakit kepala
Subjek adalah seorang perempuan dengan semangat yang gigih memperjuangkan hidup ditengah-tengah kerasnya kota Surabaya. Dia dikarunia empat orang anak hasil perkawinan dengan Mad Jeli, lelaki yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang becak di depan stasiun wonokromo. Salah satu anaknya yang masih berusia 10 tahun, saat peristiwa penggusuran tersiram air mendidih (panas; baca).
Melihat penghasilan sang suami yang tidak cukup menutupi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anaknya, ketika pagi-pagi buta (sekitar jam 03.30 – 05.30 WIB) subjek memutuskan berjualan sayur-sayuran di depan rumahnya (didepan Kantor Pertamina).



Subjek III (ketiga)
Nama : Sunardji
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat/Tanggal Lahir : Sampang, 17 Pebruari 1952
Alamat : Jl. Jagir Wonokromo
Hand Phone : 085855540146
Status : Menikah
Agama : Islam
Anak ke : 3 (bungsu)
Jumlah saudara : 3 (tiga)
Nama Istri : Suliha
Pekerjaan : Wiraswasta (modifikator motor)
Nama Anak : Qurrotu Aini dan Ainur Rasyid

Riwayat Pendidikan Formal
1). MI. Miftahul Ulum – Bettet Pamekasan Madura
Riwayat Pendidikan Agama (Madrasah Diniyah)
1). Sekolah Madrasah Diniyah Miftahul Ulum
2). Pernah nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum
Riwayat Pekerjaan
Tahun Pekerjaan
1972 – 1977 Kuli bangunan
1977 – 2009 Wiraswasta (modifikator motor)

Riwayat Kesehatan
1). Pernah menderita penyakit typus
2). Sering mengeluh sakit kepala
Subjek adalah seorang laki-laki kepala keluarga dua anak hasil perkawinan dengan siti Suliha. Satu-satunya sumber ekonomi untuk menutupi kebutuhan keluarga subjek didapatkan dari pekerjaan sebagai tukang cat dan modifikasi motor yang sudah dijalani puluhan tahun.
Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari subjek sangat gigih dan tidak kenal lelah. Dia tidak begitu memperdulikan penampilan layaknya masyarakat Kota Surabaya. Oleh karena itu, bila pagi sudah tiba subjek langsung mengenakan kostum yang sangat sederhana, bersandal jepit sisian –kanan dan kiri tidak sama warna dan bentuknya- serta tidak lupa memakai topi.

2. Hasil Observasi
Hasil observasi yang dilakukan peneliti pada subjek pertama (Afandi), subjek terlihat sangat berbeda dengan sebelum penggusuran. Subjek lebih banyak diam, kurang apresiated dengan tamu (peneliti) dan kurang respect dengan pertanyaan-pertanyaan peneliti.
Selama proses penelitian dilaksanakan, aktivitas yang dilakukan subjek saat pagi hari adaalah tidur. Bagi subjek waktu hanya dihabiskan dengan tidur, mulai habis shubuh hingga dluhur. Hal ini dikarenakan subjek tidak pernah tidur pada waktu malam hari. Ketika malam tiba, ia selalu berada diluar dan pulang saat menjelang pagi.
Ketika peneliti melakukan observasi pada tanggal 15 November dari jam 07.00 WIB sampai jam 12.00 WIB, subjek masih terlihat tidur dan pada jam 12.30 WIB membuka kelopak mata dengan badan lemas dan tidak bersemangat. Selang beberapa menit kemudian, subjek kembali terlelap dan tepat pada jarum jam menunjukkan angka 14.30 WIB subjek kembali bangun. Setelah terbangun dari tidur, subjek bergegas keluar rumah dengan mengendarai motor bebek Yamaha Z 2007 warna merah, kendaraan satu-satunya yang masih tersisa.
Pada hari minggu 15 November 2009, jam 15.00 WIB setelah Afandi terbangun dari tidur, peneliti menawarkan diri ikut keluar rumah dan ternyata peneliti hanya diajak nongkrong diwarung kopi sampai tiba sore hari, kemudian Afandi mengajak peneliti kembali kerumah.
Selama peneliti nongkrong dengan Afandi diwarung kopi, kerap kali terdengar kata-kata tidak bermakna, tidak nyambung dari subjek. Kata-kata keluhan, menyesali nasib yang menimpa dia terutama berkaitan dengan meninggalnya istri subjek.
Selain itu, ia terlihat banyak melamun, wajah muram, sedih, kacau, panik, cemas dengan tatapan mata kosong. Dia merasa khawatir tidak mendapatkan penghasilan setelah rumah tempat tinggal, tempat usaha (rental mobil) dan juga mobilnya habis ludes setelah tragedi penggusuran (Foto: 1).
Tidak berbeda jauh dengan subjek pertama, subjek kedua penelitian, yaitu Ibu Maryam juga mengalami banyak perubahan perilaku setelah peristiwa penggusuran.
Pada hari sabtu tanggal 16 November 2009, peneliti melakukan observasi dari jam 09.00 WIB sampai 13.00 WIB. Mulai peneliti tiba ke lokasi sampai pulang, Ibu Maryam terlihat begitu lemas dan tidak bersemangat. Apalagi ketika menatap anak balitanya yang masih mengeluh kesakitan karena tersiram air panas. Bahkan Ibu Maryam beberapa menit sempat meneteskan air mata dan mengeluarkan suara isak tangis sambil memeluk Siti Hoiriyah dengan kedua tangannya (Foto: 7).
Sedangkan subjek ketiga, yaitu Sunardji terlihat begitu gelisah dan tidak tenang ditenda sementara yang ia tempati sebagai pengganti rumah yang sudah rata dengan tanah. Sesekali berdiri, duduk, berdiri lagi dan seterusnya hingga tidak terhitung berapa kali ia berperilaku demikian dalam hitungan jam.
Sewaktu peneliti melakukan observasi pada hari minggu, tanggal 17 November 2009 jam 14.00 WIB sampai 18.00 WIB, wajah subjek terlihat sangat murung, menyimpan kecemasan, ketakutan dan tidak memperdulikan suara bising bulldozer yang sedang meratakan tanah bekas tempat bangunan rumah warga stren kali dan petugas project yang sedang memagari tanah di sepanjang bantara sungai stren kali. Disaat subjek berjalan kewarung kopi yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, peneliti sengaja ikut minum kopi diwarung yang sama. Pada saat itu terdengar keluh kesah, kata-kata putus asa dan umpatan pada petugas dan pemerintah Kota Surabaya.

3. Hasil Wawancara
Informasi yang didapat dari orang-orang terdekat Afandi, yaitu keponakan (Muhdlor Ali), mertua (Aman dan Istiowati), Afandi adalah tipe orang pekerja keras, tidak pandang gengsi, sangat riang, optimis dan mempunyai banyak sahabat serta mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarga. Hal itu terlihat dengan kesanggupan subjek menanggung biaya sekolah putra-putri saudara Afandi.
Sebagai pekerja keras dan tidak memilih-milih pekerjaan, tidak heran Afandi menuai kecukupan secara ekonomi. Terbukti dia mempunyai dua buah mobil Merk Xenia dan Avanza yang dibuat usaha rental. Namun bersamaan dengan peristiwa penggusuran terjadi, usaha rental mobilnya macet dan usaha-usaha lain yang dia jalankan menuai kebangkrutan. Kesialan –bahasa subjek- tersebut, dengan kejadian-kejadian yang menimpa subjek, tidak beberapa kemudian istri (Anik) subjek jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Tak taoh cobaan apah riyah, bek abe’en la bangkrut, gik e uji penggusuran, roma, tempat usaha ben bereng-bereng lain tadek kabbi lek. Marih jiah kabbi, binih sakek sampek tadek omur (entah ini cobaan apa, saya sudah bangkrut, masih di berikan ujian kehilangan rumah, tempat usaha dan barang-barang lain habis semua. Setelah itu istri juga sakit hingga meninggal dunia) –AA231182

Saat subjek diwawancarai mengenai tanggapan terhadap peristiwa penggusuran, subjek hanya bisa pasrah dan belum mempunyai inisiatif kedepan. “dek remah pole mun la tadek kabbi ngak riyah lek, egebeyeh odik reh saareh beih cek tak cokop (bagaimana lagi kalau sudah tidak ada semua, buat hidup sehari-hari saja tidak cukup) –AA231183 .
Sebelum terjadi peristiwa penggusuran, sosok Afandi dikenal dengan lelaki yang berkepribadian ekstrovert. Artinya seorang yang sangat sosiabel, lincah, aktif, jenaka, kecendrungan untuk asertif, bersemangat dan pemberani serta sosok yang diplomatis. Dia senang menjalin persahabatan dengan siapapun dan bisa menyesuaikan komunikasi sesuai dengan lawan bicara. Bila bertemu dengan orang yang belum dikenal, dia selalu menampakkan sebagai sosok yang pas-pasan dalam bidang ekonomi.
Namun disisi yang berbeda, subjek dikenal dimata keluarga sebagai orang yang keras kepala dan mempunyai peran sangat dominan dalam keputusan-keputusan keluarga. Hal ini diutarakan mertua subjek:
lakenah Anik orengah lincah nak, benyak hubunganah, tapeh mun la karepah tak kening be obe (suami anik –affandi- orangnya sangat lincah nak, banyak temannya tapi kalau sudah maunya, maka siapapun tidak bisa merubah).

Afandi adalah anak sulung dari empat bersaudara. Alfred Adler, tokoh psikologi perkembangan asal Austria menyatakan bahwa anak sulung dipastikan mendapat perhatian yang sempurna dari orang tuanya sampai mempunyai adik. Perhatian dari orang tua terhadap anak sulung berpengaruh pada penanaman sikap superior (paling kuat) pada diri anak, mempunyai kecemasan yang tinggi dan mempunyai ketergantungan.
Kemudian karena mendapatkan perhatian sempurna dan ketika mempunyai adik harus berbagi perhatian orang tua, maka ketika dewasa subjek tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab, pelindung dan perhatian terhadap orang lain. Hal ini terlihat dari relasi, sahabat dan kolega subjek yang luas dan banyak.
Namun dalam kondisi tidak stabil, subjek akan mempunyai perasaan tidak aman, ketakutan dan kehilangan nasib baik. Dia juga bisa menjadi sosok pemarah, pesimisi, konservatif dan terlalu taat pada kesepakatan dan komitmen bersama (hukum; baca).
Dimasa kecil subjek tumbuh besar dari lingkungan budaya yang sangat introvert (tertutup), lingkungan keluarga dan sosok ayah berperan sangat dominan. Setiap keputusan ayah, tidak terkecuali subjek, mau tidak mau, suka atau tidak suka harus tidak ada yang membantah.
Selanjutnya, pasca tragedi penggusuran, ternyata perilaku subjek juga banyak mengalami perubahan dengan sebelum penggusuran. Dalam sikap saat ditemui, subjek kerap mengeluarkan kata-kata keluh kesah dan sikap pesimis menjalani kehidupan. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan subjek:
ruwet ongguen odik riyah lek, anak tellok, asakolah kabbi, roma ben lakoh tadek kabbi, binih tadek kiah, tak taoh dek kammah odik riyah (repot menjalani hidup ini dik, anak tiga sekolah semua, rumah, pekerjaan dan istri juga sudah tidak ada. Entah hidup ini bagaimana) –AA231184.

Dalam perilaku, beberapa bulan setelah penggusuran terlihat sangat jelas subjek mengalami perubahan. Apalagi berjarak dua minggu dari tragedi penggusuran, Anik istri subjek meninggal dunia.
Menurut informasi yang kami dapatkan dari keponakan dan beberapa keluarga dekat subjek, yaitu Muhdlor Ali, dia mengahabiskan waktu malamnya bersama kolega-koleganya. Nongkrong diwarung kopi bahkan juga bermain kartu sampai menjelang pagi. Saat kami mencoba menemui untuk wawancara, jam 09.00 WIB keponakan subjek memberikan penjelasan:
Man Pan tedung tretan, takok se ajegeenah. Orengah gik buruh tedung. Gellek deteng sobbu. Ginah wawancara ding la jegeh beih yeh (Man Pan masih tidur, taku yang mau bangunin. Dia baru istirahat, subuh tadi baru dating kerumah. Wawancaranya nunggu bangun aja ya) –MA231280.

Peristiwa yang terjadi pada Afandi, menurut keluarga dekat subjek banyak menemukan kelainan perilaku pada diri Afandi. Subjek menampakkan perilaku depresi, anxietas, marah-marah tanpa alasan, kecewa dan tidak mau bergaul lagi dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan cerita mertua Afandi:
Gigir dek nak anak’en tanpa alasan, sering ajelen tak jelas ben bit abitan mun deteng beresah, ngucak sakik tabuk (marah tanpa alasan, keluar tanpa tujuan jelas yang akhirnya kalau lagi ingat, dia bilang sakit perut) –MR131453.

Sedangkan Ibu Maryam adalah seorang perempuan yang ramah dan bersahaja. Sejak kecil, dilingkungan keluarganya dia dikenal sebagai sosok perempuan yang mandiri, tidak kenal menyerah, suka bergaul dan pemberani.
Kemandirian Maryam kecil, tidak terlepas dari jumlah saudara yang dimiliki. Dalam analisa psikologi perkembangan kecendrungan anak yang mempunyai saudara banyak terkesan lebih mandiri dari anak dengan jumlah saudara sedikit. Kenyataan ini berkonsekuensi pada sosok Maryam dewasa dengan kepribadian tangguh dan tidak mau tergantung pada penghasilan suami. Hal ini terbukti dari upaya subjek untuk membantu penghasilan suami yang tidak mencukupi dengan berjualan kecil-kecilan didepan rumah sebelum terjadi penggusuran. “bojoku iki gak tawu nyusahin dik. Bahkan dia seringkali bantu aku sampek kadang aku isin dewe (istri saya tidak pernah menyusahkan dik. Bahkan dalam ekonomi keluarga sering membantu sampai saya malu sendiri)”.
Selain itu, subjek Ibu Maryam sangat pesimis dalam menjalani hidup. Dia tidak mempunyai harapan dan persepsi positif ketika ditanya tentang janji ganti rugi dan relokasi Rusun (rumah susun). Terlihat dari ungkapan pernyataan subjek:
Pemerintah wes kebelinger mas, relokasi rusune ora ono apa-apa ne, lampu dorong nayala, banyu orep bengi tok, tempate yo jauh dari keramaian (pemerintah sudah kebelinger mas, rusun relokasi tidak ada apa-apanya. Lampu (PLN) belum nyala, airnya hidup hanya malam dan tempatnya jauh dari keramaian) –IM130570.

Sedangkan perilaku Ibu Maryam juga terlihat banyak diam, kurang apresiated dengan tamu (peneliti) dan kurang respect dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti.
Selama proses penelitian berlangsung, subjek banyak melamun, menampakkan wajah muram, sedih, kacau, panik, cemas dengan tatapan mata kosong, dan tidak bersemangat. Hal ini dibenarkan oleh suami subjek. “Sejak peristiwa penggusuran, istri saya banyak diam mas, dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dengan peristiwa penggusuran ini, anak kita yang masih balita terkena siram air panas –MJ150657. ”
Menurut pengakuan subjek untuk memulai hidup baru, selain tidak mempunyai modal, subjek juga masih sangat terauma dengan kajadian penggusuran yang telah menimpanya. Barang-barang baik perabot rumah dan perlengkapan rumah tangga lainnya sudah habis semua, tidak ada satupun bisa terselamatkan saat penggusuran.
Saiki isone pasrah tok mas, alat urip neng pawon a ewes entek kabeh. Ancene sak durungi penggusuran iki, sosialisasine pemerintah gak jelas (saya hanya bisa pasrah sekarang mas, alat untuk hidup didapur saja sudah habis semua. Memang sebelum penggusuran, sosialisasinya pemerintah tidak jelas) –IM130571 .


Tidak begitu berbeda dengan subjek-subjek yang lain, subjek ketiga juga mengalami banyak perubahan perilaku, laki-laki yang biasanya selalu optimis dan gigih memperjuangkan hidup selama ada di Surabaya, namun pasca peristiwa penggusuran dia hanya mampu banyak berdiam diri di sisa-sisa reruntuhan bangunan rumah tinggalnya yang sudah rata dengan tanah.
Selama proses wawancara dan observasi berlangsung, subjek sering terlihat banyak tidur dan tidak mengerjakan apa-apa. Saat menjelang malam, subjek hanya nongkrong diwarung kopi yang tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya sampai larut malam. Selesai minum kopi subjek langsung tidur dibawah atap terpal yang tidak berpintu dan bangun kalau sudah matahari mulai menyengat.
Suatu hari tepatnya tanggal 17 November 2009, peneliti mengamati subjek 24 jam. Terlihat subjek tidak bersemangat menjalani hidup, wajah lesu, kelihatan sedih, panik dan bahkan tidak terlalu peduli dengan kondisi badan dan pola makan. Hal ini dibenarkan oleh informan, kang hudi (penjaga warung kopi):
Yo wes ngono mas keseharian pak nardji, mangane wes gak spiro mangan, mek turu tok. Kadang-kadang matanya keliatan berkaca-kaca, keluar air mata, lemes (keseharian pak nardji sudah begitu mas, tidak memperdulikan maka, hanya tidur terus dan kadang-kadang terlihat matanya berkaca-kaca) –KH181297.

Pengakuan cak Nardji –satu-satunya korban penggusuran yang tetap bertahan di area penggusuran- peristiwa penggusuran sudah menghilangkan sisa-sisa semangat hidup yang ia punya. Menurut cerita kenangnya, ia sudah tinggal di Stren Kali sudah 33 tahun dan saat memulai usaha sebagai pengecat dan tukang modif motor, dia meminjam uang sebesar Rp. 25.000 dari seorang reintenir.
Bilen engkok mulai usaha awalnya nginjem modal ka reintenir nak. Ariyak dingla olleh hasil ben bisah egebey biaya nak anak, pemerinta agusur (dulu saya memulai usaha tukang cat motor ini dari pinjem modal ke renteinir nak. Sesudah dapat hasil dan bisa dibuat biaya anak-anak, pemerintah kok menggusur) -SR170251.

Selanjutnya informasi tentang subjek kedua Informasi didapat dari penjaga warung kopi, kang hudi, cak Nardji –penggilan akrab Sunardji- adalah tipe orang pekerja keras, tidak pandang bulu pada pekerjaan, sangat riang, optimis dan mempunyai banyak pelanggan serta mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarga. Bahkan dikalangan remaja Cak Nardji dikenal sebagai sosok yang sangat inovatif, kreatif dan suka humor dengan semua orang. Hal itu terlihat dari pelanggan Cak Nardji lintas generasi, dari golongan anak-anak remaja yang suka memodif motor sampai golongan tua.
Selain itu, Cak Nardji dikenal dengan lelaki yang berkepribadian ekstrovert. Artinya seorang yang sangat sosiabel, lincah, aktif, jenaka, kecendrungan untuk asertif, bersemangat dan pemberani serta sosok yang sangat demokratis khususnya pada keluarga.
Dia senang menjalin persahabatan dengan siapapun dan bisa menyesuaikan komunikasi sesuai dengan lawan bicara. Bila bertemu dengan orang yang belum dikenal, dia selalu menampakkan sikap ramah ala orang jawa tulen.
Namun sejak peristiwa penggusuran, subjek mengalami rasa malas dan bergaul dengan orang lain. Dia merasa tidak berharga dan tidak percaya diri lagi. Bahkan dalam pengakuan subjek sendiri, dia langsung merasakan perubahan dalam dirinya, terutama dalam aspek fisiologis. Dia mengaku sering merasa sakit kepala, otot leher dan bahu terasa tegang. Baru saja bergerak, dia sudah mengalami kelelahan. Dia juga mengalami gangguan tidur, ia sering mengigau setiap malam. Beberapa saat setelah penggusuran sampai penelitian dilakukan, subjek kehilangan nafsu makan sampai dia merasakan sakit perut melilit yang amat sangat. Dia tampak lesu, wajah kusam dan lemah. “Marenah penggusuran, engkok sakean cetak dan tabuk nak, repot ngiddeeh tedung ben beden lemes kabbi (setelah penggusuran, saya sering sakit kepala nak, susah tidur dan badan terasa lemas)” –SR170352.
Sedangkan riwayat kesehatan subjek, sejak kecil hingga hingga menginjak dewasa mempunyai penyakit maag dan sakit kepala. Beberapa hari setelah penggusuran, subjek sering mengeluh kembali dengan penyakit yang sama.
Sakek tabuk, deng kadeng sakek cetak lek ben panas cellep (sakit perut, dan kadang-kadang sakit kepala dan panas dingin lek) –AA231185 .

Ngelu, loro sira mas karo males mangan lek wes panas (puyeng, sakit kepala mas dan kalau sudah telat tidak enak makan) –IM130870 .

Greges ben panas cellep nak, yeh kadeng lah tak nyaman ngakan. Biasa nak oreng tuah benyak penyakit (panas dingin, kadang juga tidak enak makan nak. Biasa orang tua, banyak penyakit) –SR170252 .

4. Hasil Dokumentasi
Pemukiman Stren Kali mulai muncul pada tahun 1960-an, sebagai dampak urbanisasi, di mana warga pedesaan ataupun kota-kota kecil dari sekitar Jawa Timur berdatangan memasuki kota Surabaya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh konsultan Andi Siswanto menunjukkan dari seluruh penduduk Stren Kali Jagir 48% berasal dari kota/kabupaten kecil di wilayah Jawa Timur. Sementara 42% adalah warga yang berasal dari kota Surabaya sendiri, yang memilih menempati dan membangun hunian di atas tanah kosong di bantaran kali .
Pilihan mereka atas lokasi bantaran kali Surabaya adalah karena alasan lokasi strategis di pusat kota, di mana mereka bekerja. Hal ini terlihat dari data hasil penelitian bahwa 56.1% dari mereka bekerja dalam radius kurang dari 1 kilo meter; 40 % bekerja sebagai karyawan swasta dan 32.4% sebagai pedagang kecil, atau berwiraswasta .
Dari tahun ke tahun, bantaran kali semakin dipadati oleh bangunan-bangunan permanen, hingga pada tahun tahun 2003 total jumlah penghuni perkampungan ini mencapai sekitar 6000 jiwa . Pada umumnya mereka sudah menempati lokasi di sepanjang stren kali Surabaya dalam waktu yang cukup lama.
Mereka membangun sendiri rumahnya sehingga dapat dikatakan memiliki rumah sendiri, namun ada yang masih berstatus menyewa atau mengontrak dari orang lain. Status kepemilikan rumah ataupun tanah bervariasi. Sebagian telah memiliki surat ijin membangun, surat ijin penggunaan lahan dari PU atau surat pernyataan hak milik atas tanah/rumah. Sebagian besar tidak memiliki surat ijin apapun, akan tetapi sebagian dari mereka mempunyai tanda daftar perusahaan perorangan.
Pada tahun 1960 Daerah Jagir Barat (sekarang di seberang gang II–IV) merupakan kompleks prostitusi. Daerah sebelah timur (sekarang di seberang gang IV – perempatan Panjang Jiwo) merupakan tanah kosong yang ditumbuhi ilalang dan pohon krangkong. Selanjutnya pada tahun 1961 sampai 1962 terjadi keributan di kompleks prostitusi sampai terjadi kebakaran. Sejak saat ini prostitusi dipindah ke Jarak Surabaya.
Pada tahun 1964 ada pemindahan sekitar 50 pedagang dari pasar Wonokomo oleh walikota Sukoco karena pembangunan perluasan pasar Wonokromo. Mereka umumnya pedagang besi yang semula berjualan dibagian Barat pasar. Karena tempat tersebut akan digunakan sebagai terminal bemo, maka mereka diminta pindah dengan dua pilihan tempat.
Pilihan pertama direlokasi ke toko-toko kosong yang ada didalam pasar dengan ukuan 2,5 m x 4 m. Pilihan kedua dipindah ke daerah jagir wonokomo, ditepi sungai. Akhirnya 50 orang memilih pindah ke Jagir Wonokromo. Mereka mendirikan bangunan untuk berdagang dan tempat tinggal.
Janji pemerintah saat itu –wali kota Sukoco- tempat tinggal dan tempat usaha akan dibayar pembangunannya oleh pemkot dan warga mencicil jika sudah selesai. Tetapi janji tersebut tidak pernah terlaksana. Kondisi tanah yang ditempati saat itu masih lebih tinggi dari jalan raya yang ada saat ini. Transportasi darat yang paling disukai adalah becak dan bendi, meski sudah ada bemo.
Sungai digunakan oleh pedagang ikan dan bambu dari arah Timur sampai disebelah Timur pintu air tempat mereka biasanya menggelar dagangan. Penduduk tepi sungai memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari (mandi, cuci, buang air dan masak). Sedangkan bagian Barat wilayah Jagir –dari rel kereta api sampai seberang kantor Pertamina- ada taman. Di sebelahnya ada bangunan rumah penjaga aspal dan drum Pertamina.
Pada tahun 1967 daerah Timur Jagir yang masih berupa tanah kosong penuh ilalang dan krangkong mulai dihuni oleh tukang becak dan beberapa orang yang tidak memiliki lahan diwilayah barat. Selain rumah tinggal, mereka juga membuka usaha sepeti bengkel, warung kelontong dan lain-lain. Saat itu RK dan pengurus kampung tidak memperhatikan.
Selanjutnya tahun 1986 Jembatan Nginden dibangun. Tidak ada lagi perahu penjual ikan dan pedagang bambu lewat di sungai. Diwaktu bersamaan beberapa orang di Jagir Timur mulai bisa membangun rumah. Saat itu pengurus kampung (ketua RK) dari seberang jalan mendatangi dan melarang mereka mendirikan bangunan. Tetapi setelah bernegosiasi akhirnya mereka diijinkan tinggal dengan membayar Rp 1,00 dan diakui sebagair warga resmi kampung seberang.
Pada tahun 1968 warga mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang beralamatkan di lokasi pemukiman mereka oleh kecamatan Wonokromo. Dan pada tahun 1970 warga penampungan dari Dinas Sosial direlokasi ke wilayah Stren Kali Jagir (depan Mangga Dua) oleh Dinas Sosial Kota Surabaya. Pada tahun ini juga sampai 1971 Jalan raya Jagir dibangun oleh pemerintah daerah dengan dana yang berasal dari ponsoria wawe (semacam SDSB). Setelah ini mulai ramai bemo dan bus Damri.
Pada tahun 1975 Warga mulai membayar PBB (IPEDA). Penghuni mulai berganti karena banyak rumah yang diperjual belikan hak pakainya. Daerah timur Jagir sampai tugu Panjang Jiwo mulai ramai dihuni. Selanjutnya tahun 1983 PLN masuk ke pemukiman warga dan mulai terpasang instalasi listrik.
Penduduk terus berdatangan tanpa bisa dihentikan, hingga pada tahun 1998 Daerah Barat yang dulu taman mulai dihuni oleh pedagang kayu dan alat memancing. Daerah Timur (tugu Panjang Jiwo sampai ke Timur) mulai berpenghuni. Sebagian besar dari mereka adalah pedagang kaki lima dan bengkel kecil.
Warga yang sudah bertahun-tahun bermukim di Stren Kali Surabaya dan Kali Wonokromo, tepatnya tanggal 26 Maret 2002, tiba-tiba dikejutkan dengan adanya surat Perintah Pembongkaran II (SP II). Hal itu dilakukan tanpa ada proses sosialisasi, bahkan ada beberapa kampung seperti Karang Pilang baru mengetahui adanya SP II tersebut setahun kemudian .
Melihat kasus penggusuran warga Stren Kali di Panjang Jiwo, dimana setelah rumah mereka dibongkar mereka tidak juga mendapatkan haknya, sehingga harus berbulan-bulan tinggal di tenda-tenda Warga Stren Kali di Bratang, Jagir, Gunungsari, Jambangan, Kebonsai dan Pagesangan sepakat untuk bersatu membentuk “Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya”. Dalam perjalanan waktu kini Paguyuban Warga Stren Kali tersebut sudah mencakup 10 kampung, yaitu Jagir, Bratang, Bratang Kampung Baru, Gunungsari I, Gunungsari II, Jambangan, Kebonsari, Pagesangan, Kebraon dan Karang Pilang.
Melihat reaksi warga, akhirnya pada tanggal 10 Mei 2003 Menteri Kimpraswil, Ir. Soenarno berdialog dengan perwakilan warga stren kali Surabaya dan kali wonokromo yang terancam akan digusur. Dalam dialog tersebut juga hadir anggota Komisi IV DPR RI, Sekda propinsi Jawa Timur, Komisi D DPRD Jawa Timur, Walikota Surabaya, Kepala PU Pengairan Jawa Timur, serta sejumlah pejabat dari Instansi terkait.
Adapun hal penting dalam dialog di Gedung Wanita Surabaya tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menteri Kimprawil minta kepada Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya untuk menghentikan penggusuran sampai disahkan Peraturan Daerah (PERDA) Propinsi Jawa Timur yang mengatur tentang Bantaran Sungai Kali Surabaya dan kali Wonokromo
2. Untuk penerbitan PERDA Menteri akan membentuk TIM Teknis yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kota, Akademisi Independen, LSM dan wakil warga yang tergusur maupun yang terancam digusur.
3. Menteri Kimpraswil sepakat dan sangat tetarik dengan konsep warga stren kali “masyarakat penjaga sungai” dalam hal menjaga fungsi sungai.
Namun sampai pada tanggal 18 September 2003, tim teknis yang sudah disepakati belum juga terbentuk, warga pun menanyakan hal itu kepada Kepala Dinas PU Pengairan dan PU Pemukiman Jawa Timur. Ternyata pada hari yang sama Gubernur Jawa Timur menyerahkan Raperda Stren Kali Surabaya kepada Komisi D DPRD Jatim untuk dibahas dan direncanakan akan disah menjadi Perda.
Menyikapi Raperda tersebut perwakilan warga dan LSM Jerit pada tanggal 23 September 2003 menemui Komisi D DPRD Jawa Timur minta agar Raperda Stren Kali tersebut tidak dibahas karena Raperda tersebut tidak disusun Tim Teknis sesuai kesepakatan saat dialog dengan Menteri Kimpraswil.
Namun setelah terjadi negosiasi, akhirnya tanggal 1 Oktober 2003 warga ikut bersama Komisi D DPRD Jawa Timur yang melakukan pertemuan dengan Menteri Kimpraswil untuk membahas Raperda Stren Kali tersebut.
Pada waktu yang berrlainan, tanggal 23 Oktober 2003 Gubernur Jawa Timur membentuk Tim Kajian Teknis dan mulai bekerja 23 Oktober 2003. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan dan pembahasan Tim Kajian Teknis dimana di dalam ada perwakilan warga Stren Kali terlibat menghasilkan sebuah kajian teknis yang akan disampaikan ke Menteri Kimpraswil.
Selain ada beberapa hal yang berhasil disepakati, namun ada juga yang tidak berhasil disepakati antara Tim Wakil pemerintah (didukung dari kalangan Perguruan Tinggi) dengan Tim Perwakilan warga.
Beberapa hal yang berhasil disepakati bahwa antara lain :
a. Program normalisasi sungai kali Surabaya dan kali Wonokromo harus meminimalkan terjadinya penggusuran
b. Penataan sungai akan ditata terintegrasi dengan penataan permukiman yang mengacu pada konsep renovasi. Apabila hal tersebut tidak bisa dilaksanakan, maka diperlukan perumusan rencana detail dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial budaya dan teknis, sehingga apabila terjadi relokasi setempat, atau terpaksa pada lokasi sekitar/ lainnya, masyarakat tidak menjadi lebih buruk kondisinya (worst-off). Penataan tidak akan menghilangkan akses warga stren terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, permukiman, jaringan ketetanggaaan/kekerabatan, kehidupan keagamaan yang sudah ada selama ini.
Selanjutnya tanggal 26 Maret 2004 Hasil kerja Tim Kajian Teknis Stren Kali Surabaya disampaikan kepada Menteri Kimpraswil. Apa dan bagaimana hasilnya, Menteri melihat masih harus dilakukan kajian lebih detil lagi.
Sengketa masalah Stren Kali terus berlanjut, hingga pada tahun 2007 Pemprop Jawa Timur untuk kesekian kalinya mengusulkan kembali Raperda penataan sempadan kali Surabaya dan Kali Wonokromo. Dan pada tanggal 1 Oktober 2007 Pansus Strenkali menghasilkan draft Raperda penataan sempadan kali Surabaya dan kali Wonokromo yang kemudian disahkan sebagai Perda pada tanggal 1 Oktober 2007, yang kemudian dicatatkan dalam lembaran daerah dengan Perda Nomor 9 tahun 2007.
Pada tanggal 23 April 2009 Surat Peringatan dari Kecamatan Wonokromo dibagikan oleh Satpol PP kepada warga Jagir. Surat berisi peringatan untuk membongkar sendiri bangunan milik warga kalau tidak akan dilakukan pembongkaran pada tanggal 30 April 2009. Surat tersebut merupakan hasil rapat antara Dinas PU Pengairan dengan Pemerintah Kota Surabaya. Perda yang dijadikan acuan penggusuran adalah peraturan yang lama, tidak menyinggung Perda terbaru No. 9 tahun 2007 sama sekali.
Melihat gelagat tidak baik tersebut, pada tanggal 27 April 2009 DPRD Kota Surabaya Komisi C mengundang rapat beberapa instansi terkait untuk menyikapi surat peringatan Kecamatan Wonokromo pada tanggal 29 April 2009.
Mendengar rencana penggusuran, pada tanggal 28 April 2009 warga melakukan aksi di Dinas Pengairan. Ketua Dinas PU Pengairan, Mustofa menemui warga dan mengatakan bahwa tidak ada rencana penggusuran dan tidak mengakui adanya rapat dengan Pemkot Surabaya.
Dari Dinas Pengairan warga mendatangi DPRD Jawa Timur Komisi D. Komisi D mengadakan rapat bersama perwakilan warga. Dalam rapat dinyatakan bahwa Surat Kecamatan Wonokromo perihal penggusuran Stren Kali telah melanggar kewenangan provinsi Jawa Timur khususnya terkait Perda No.9 tahun 2007. Di pertemuan juga tebukti bahwa Rapat Dinas Pengairan dan Pemkot ternyata benar-benar terjadi dan DPRD Jawa Timur merasa tersinggung karena dilangkahi.
Menindak lanjuti rapat DPRD Jawa Timur, pada tanggal 29 April 2009 DPRD Kota Surabaya juga dihadiri Dinas PU Pengairan Prop Jatim, Perum Jasa Tirta, Dinas Bina Marga dan Pematusan, Camat Wonokromo, Lurah Jagir, Perwakilan warga dan LSM Jerit mengadakan rapat dan memutuskan beberapa hal, yaitu pertama Dinas PU Pengairan Provinsi Jatim menghormati Perda No.9 Tahun 2007 tentang Penataan Sempadan Sungai kali Surabaya dan Wonokromo. Kedua Surat Kecamatan Wonokromo batal demi hukum dan diminta untuk melakukan pencabutan Surat Peringatan. Ketiga hasil Rapat berlaku di seluruh kecamatan di wilayah sempadan sungai kali Surabaya dan kali Wonokromo.
Pada tanggal 30 Maret 2009 JTV mengundang perwakilan warga untuk hadir dalam acara “Nyelatuk Show” sebuah acara debat antara dua belah pihak. JTV juga mengundang Walikota Surabaya dan Pemkot tapi tidak ada yang datang.
Akhirnya kekhawatiran warga tentang penggusuran benar terjadi. Pada tanggal 4 Mei 2009 penggusuran terjadi di kawasan Jagir. Aparat gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) dan polisi yang turun sebanyak 2.500 orang plus anjing polisi, melebihi jumlah warga di Jagir. Penggusuran dilengkapi dengan satu unit Canon Water Car, satu unit Buldozer dan tiga unit Excavator (Back Hoe).
Pagar betis berlapis yang dibuat warga tak kuasa menahan serbuan aparat yang berjumlah banyak. Penggusuran sempat dihentikan selama tiga jam ketika anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya dan Komisi D DPRD Propinsi Jawa Timur ikut berorasi. Namun setelah semua anggota dewan tersebut meninggalkan lokasi penggusuran dilanjutkan sehingga seluruh kawasan Jagir sepanjang kurang lebih 2 kilo meter dibongkar dan rata dengan tanah.
Bentrokan sempat terjadi pada sore hari dimulai dari sekelompok orang yang melempari Excavator (menurut pengamatan warga di lapangan banyak wajah-wajah tak dikenal ikut berbaur dikerumunan massa dan mereka yang memulai melempari) sehingga suasana menjadi chaos dan menyebabkan sebagian warga dipukuli dan delapan belas warga ditangkap oleh polisi.

5. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian dengan subjek pertama berlangsung disalah rumah saudara subjek, Jl. Rungkut III No. 23 Surabaya. Karena kondisi sangat ramai dan banyak orang, akhirnya peneliti meminta subjek untuk wawancara diwarung kopi, tidak jauh dari kos subjek.
Sedangkan dengan subjek kedua dan ketiga, penelitian berlangsung di tenda sementara warga korban penggusuran yang disediakan oleh Paguyuban Stren Kali dan LSM Jerit, tidak jauh dari lokasi penggusuran. (Gambar: 2)

C. ANALISIS DATA
Sebuah kekecewaan yang mendalam diakibatkan kehilangan rumah tempat tinggal dan tempat menggantungkan hidup keluarga (tempat usaha; baca) dalam proses mempertahankan diri dan aktualisasi diri dapat dikategorikan stressfull.



1. Pemicu Stres Warga Korban Penggusuran
Inisiatif penataan dan menjaga lingkungan oleh pemerintah Kota Surabaya yang berujung pada penggusuran rumah-rumah penduduk stren kali jagir, menjadi salah satu stressor (sumber stress) yang mengancam kesejahteraan dan kesehatan jiwa (pshyco) warga korban penggusuran.
Stressor jenis ini dikategorikan sebagai stress yang datang dari stressor faktor lingkungan. Artinya keadaan lingkungan yang tidak menentu menyebabkan jiwa masyarakat (society pshyco) tidak sehat.
Faktor lingkungan ekonomi masyarakat yang masih berada dibawah garis kemiskinan dan disisi yang lain, masyarakat hanya menggantungkan hidupnya dari hasil usaha ditempat penggusuran, maka tidak dipungkiri akan mengguncang kesehatan psikis warga stren kali.
Selain itu, kondisi politik yang tergambar pada tarik ulur lembaga legislatif dan eksekutif baik ditingkat propinsi maupun kota, menambah kegalauan psikologi masyarakat.
Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian terhadap kedua hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan peraturan pemerintah kota yang begitu cepat. Perubahan peraturan pemerintah yang baru dan dianggap mengancam pada kesejahteraan (rasa aman) subjek menuntut adaptasi baru baik dari segi ekonomi maupun perilaku.


Tabel 4.2
Stresor Warga Stren Kali

Stresor Sumber data Kesimpulan (coding)
Faktor Lingkungan IM130570
“Pemerintah wes kebelinger mas, relokasi rusune ora ono apa-apa ne, lampu dorong nayala, banyu orep bengi tok, tempate yo jauh dari keramaian (pemerintah sudah kebelinger mas, rusun relokasi tidak ada apa-apanya. Lampu (PLN) belum nyala, airnya hidup hanya malam dan tempatnya jauh dari keramaian).


SR170352
“Marenah penggusuran, engkok sakean cetak dan tabuk nak, repot ngiddeeh tedung ben beden lemes kabbi (setelah penggusuran, saya sering sakit kepala nak, susah tidur dan badan terasa lemas)

SR170251
“Bilen engkok mulai usaha awalnya nginjem modal ka reintenir nak. Ariyak dingla olleh hasil ben bisah egebey biaya nak anak, pemerinta agusur (dulu saya memulai usaha tukang cat motor ini dari pinjem modal ke renteinir nak. Sesudah dapat hasil dan bisa dibuat biaya anak-anak, pemerintah kok menggusur). Ketiga subjek mempunyai perasaan dan anggapan yang sama bahwa penggusuran mengancam kesejahteraan warga.
Faktor Individu AA231184
Ruwet ongguen odik riyah lek, anak tellok, asakolah kabbi, roma ben lakoh tadek kabbi, binih tadek kiah, tak taoh dek kammah odik riyah (repot menjalani hidup ini dik, anak tiga sekolah semua, rumah, pekerjaan dan istri juga sudah tidak ada. Entah hidup ini bagaimana).
AA231182

Tak taoh cobaan apah riyah, bek abe’en la bangkrut, gik e uji penggusuran, roma, tempat usaha ben bereng-bereng lain tadek kabbi lek. Marih jiah kabbi, binih sakek sampek tadek omur (entah ini cobaan apa, saya sudah bangkrut, masih di berikan ujian kehilangan rumah, tempat usaha dan barang-barang lain habis semua. Setelah itu istri juga sakit hingga meninggal dunia).

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pemicu dan sumber utama stres warga stren kali yang menjadi korban penggusuran tahun 2009 disebabkan oleh penggusuran yang berdampak pada kemunculan problem-roblem baru seperti kehilangan tempat tinggal, tempat usaha, kehilangan orang yang dicintai, menambah beban biaya hidup untuk pengobatan anak yang terkena siraman air panas saat penggusuran.
Dengan demikian, akumulasi problem yang berawal dari penggusuran, terinternalisasi dalam psikis tiga subjek penelitian dan pada sisi yang lain subjek penelitian tidak mempersipakan mekanisme pertahanan diri sehingga dapat dipastikan akumulasi problem tersebut menekan psikis ketiga subjek penelitian yang akhirnya termanifestasi dalam kategori perilaku stres.



2. Gambaran Stres Pada Subjek
Stres yang terjadi pada tiga warga korban penggusuran stren kali jagir tahun 2009 merupakan konsekuensi langsung (direct consequence) dari stres akut yang berat dan trauma yang berkelanjutan .
Stres akut adalah keadaan yang membebani atau membahayakan kesejahteraan penderita baik fisik, psikologis, sosial maupun kombinasinya. Dalam kondisi demikian, juga dapat disebut sebagai stres kronis, yaitu stres yang berjalan terus menerus sepanjang minggu, tidak ada perubahan, tidak ada liburan, semuanya menoton . Oleh karena itu, suatu keadaan kecewa yang amat sangat akibat sebuah kenyataan yang terjadi dan tidak sesuai harapan disebut juga dengan stressful (peristiwa yang menekan).
Dari keseluruhan ciri-ciri stres akut, maka subjek tidak selamanya mengidap stres akut. Gangguan stres berikutnya dapat dinilai sebagai stres berkelanjutan (stres kronis) yang berbentuk gangguan penyesuaian atau perilaku maladaptif pasca stres akut. Sedangkan secara spesifik, ciri-ciri dari respon stres yang ada pada diri subjek terhitung sejak terjadi peristiwa penggusuran sampai pada ketidak menentuan rencana relokasi dan ganti rugi uang oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur.


Tabel 4.3
Gambaran Stres Kronis pada Subjek
Aspek Sumber Data Kesimpulan (coding)
FISIK AA231185
Sakek tabuk, deng kadeng sakek cetak lek ben panas cellep (sakit perut, dan kadang-kadang sakit kepala dan panas dingin lek).
IM130870
Ngelu, loro sira mas karo males mangan lek wes panas (puyeng, sakit kepala mas dan kalau sudah telat tidak enak makan).
SR170252
Greges ben panas cellep nak, yeh kadeng lah tak nyaman ngakan. Biasa nak oreng tuah benyak penyakit (panas dingin, kadang juga tidak enak makan nak. Biasa orang tua, banyak penyakit).
IF1708010
Awalnya, man pan malas makan sampek keluarga disini khawatir semua Subjek kehilangan nafsu makan, penyakit maag kambuh, sakit kepala dan panas dingin
IF1708003
Dia sering teriak-teriak sakit kepala. Namun keluarga disini sudah mengerti kok Sejak penggusuran subjek sering mengalami sakit kepala
EMOSI AA231178
Penggusuran menghabiskan semua mas, tempat tinggal (rumah), tempat usaha dan barang-barang lain. Belum lagi biaya pindah tempat, memulai usaha baru yang akan menghabiskan biaya lebih banyak.
IM130870
Tidak ada yang tersisa akibat penggusuran ini dik sampai anak saya sendiri yang masih balita terkena air panas. Kami ini manusia tapi kok oleh pemerintah tidak dimanusiakan. Subjek merasa cemas, khawatir, takut, putus asa dan pesimis
KOGNITIF AA231181
Ding tedung malem, engkok sering amimpih tak jelas lek (kalau tidur malam, saya sering mimpi tidak jelas dik)….
MA230183
Man Pan Jarang tedung malem tretan, tak jelas anuh apah (man pan jarang tidur malam bro, tidak jelas ngerjain apa). Subjek sering mengalami mimpi tidak jelas.



IM130772
lek bengi jarang iso turu dik, disamping tempate kayak ini, yo ancene moto kati dimeremno ra iso, padahal angop terus (kalau sudah malam jarang bisa tidur dik, disamping tempatnya seperti ini, ya mata saya tidak bisa dipejamkan, padahal wes angop terus)

MJ250998
Bojoku lek wes bengi tangi, iku ora iso turu menne mas (istri saya kalau sudah bangun di malam hari tidak mungkin bisa tidur lagi mas)


Insomnia
AA231184
Dek remah pole mun la tadek kabbi ngak riyah lek, egebeyeh odik reh saareh beih cek repotah (gimana lagi kalau sudah tidak ada semua, buat hidup sehari-hari saja tidak cukup) Pesimis
PERILAKU AA231184
Abek sakek kabbi, aguliyeh males, tak bisa konsentrasi engak bilen pole la (saya rasanya sakit semua, bergerak malas dan tidak bisa konstrasi seperti dulu lagi)
Gambar 2
(Subjek melamun sambil memegang kepala dan menghisap sebatang rokok) Malas memulai usaha lagi

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini subjek lebih dalam mengahadapi stresfull yang kaitannya dengan penggusuran. Subjek banyak melakukan tindakan pertahanan diri (defence mechanism) yang mengarah pada problem focused coping. Artinya saat menghadapi stresfull event (kasus penggusuran stren kali), subjek mengambil tindakan untuk memecahkan masalah atau mencari informasi yang berguna untuk membantu pemecahan masalah.


D. PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketidak stabilan lingkungan baik dalam bentuk ketidak sejahteraan ekonomi masyarakat maupun situasi politik yang tidak menguntungkan dan mengancam terhadap kesejahteraan warga stren kali yang menjadi korban penggusuran menjadi salah satu sumber stres. Selain itu, problem-problem pribadi warga baik dalam ruang lingkup keluarga maupun dalam ruang hubungan interpersonal ditengah-tengah masyarakat juga mengancam pada kesehatan jiwa warga stren kali.
Berdasarkan kategorisasi data dalam tabel diatas, sumber stres warga korban penggusuran stren kali tergolongkan kedalam dua faktor, yaitu:
1. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akibat ketidak jelasan pijakan hukum dan ketidak maksimalan sosialiasi surat perintah penggusuran terinternalisasi dalam jiwa warga, kemudian termanifestasi dalam kelainan-kelainan perilaku. Kenyataan tersebut tercermin dari dua hal, yaitu pertama pijakan surat perintah penggusuran tidak mempunyai landasan hukum yang jelas. Kedua tenggang waktu sosialisasi SP penggusuran dengan realisasi penggusuran berjarak tidak terlalu lama.
2. Faktor Pribadi
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Faktor ini terlihat dari: (1). Usaha subjek mengalami kemacetan dan kebangkrutan, dan (2). Istri subjek meninggal dunia
Kemudia sebuah kekecewaan mendalam yang diakibatkan penggusuran rumah tempat tinggal dan tempat usaha menggantungkan ekonomi keluarga di stren kali jagir tahun 2009 merupakan tragedi yang menekan individu mengalami stresfull event. Besar kecil respon yang ditimbulkan tergantung bagaimana subjek melakukan pertahanan diri (defence mechanism). Maka, sumber stress utama yang menjadi stressor adalah tragedi penggusuran rumah dan tempat usaha (emperan rumah) para subjek.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa respon stress yang muncul pada subjek yang menjadi korban penggusuran stren kali jagir wonokromo tahun 2009.
Berdasarkan hasil wawancara yang ditabulasikan pada tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa stress yang terjadi pada korban penggusuran stren kali jagir tahun 2009 terkategorisasikan pada unsur psikologis dan fisiologis, yaitu:
a. Respon fisiologis, meliputi proses-proses organic dari makhluk hidup. Respon ini dapat ditandai dengan terganggunya beberapa hal, yaitu:
a. Subjek kehilangan nafsu makan
b. Terjangkit penyakit maag
c. Kerap sakit kepala
d. Ekspresi wajah kusut dan tampak serius
b. Respon kognitif, meliputi semua proses aktivitas mental yang terjadi di otak, dapat terlihat dari terganggunya beberapa proses kognitif subjek, yaitu:
a. Subjek merasa cemas, khawatir dan takut
b. Tensi emosi tinggi (sering marah-marah)
c. Respon emosi, meliputi perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, yaitu:
a. Gangguan konsentrasi
b. Sering mengalami mimpi buruk
c. Insomnia (sulit tidur)
d. Respon tingkah laku, meliputi setiap tindakan manusia atau hewan yang dapat dilihat, yaitu:
a. Malas bekerja
b. Sering melamun
Hal ini sesuai dengan teori Taylor bahwa stress dapat direspon melalui beberapa aspek, yaitu :
a. Respon fisiologis; dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi dan system pernapasan.
b. Respon Kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang dan pikiran tidak wajar.
c. Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang dialami individu seperti takut, cemas, malu, marah dan sebagainya.
d. Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan dan fight menghindari situasi yang menekan.
Penelitian ini juga sesuai dengan teori Luthans yang mengatakan stres adalah suatu tanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis, sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau peristiwa yang terlalu banyak mengadakan tuntutan psikologis dan fisik seseorang .

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
1. Peristiwa penggusuran pada rumah-rumah warga distren kali menjadi salah satu pemicu dan sumber utama timbulnya perilaku stres warga yang menjadi korban penggusuran. Selain itu, problem ekonomi keluarga yang ada seiring peristiwa penggusuran menambah luka stress pada psikis warga korban penggusuran.
a. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akibat ketidak jelasan pijakan hukum dan ketidak maksimalan sosialiasi surat perintah penggusuran terinternalisasi dalam jiwa warga, kemudian termanifestasi dalam kelainan-kelainan perilaku. Kenyataan tersebut tercermin dari dua hal, yaitu pertama pijakan surat perintah penggusuran tidak mempunyai landasan hukum yang jelas. Kedua tenggang waktu sosialisasi SP penggusuran dengan realisasi penggusuran berjarak tidak terlalu lama.
b. Faktor Pribadi
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Faktor ini terlihat dari: (1). Usaha subjek mengalami kemacetan dan kebangkrutan, dan (2). Istri subjek meninggal dunia

2. Gambaran gangguan stres yang terjadi pada korban penggusuran stren kali jagir tahun 2009 terkategorisasikan pada unsur psikologis dan fisiologis, yaitu:
a. Respon fisiologis, meliputi proses-proses organik dari makhluk hidup. Respon ini dapat ditandai dengan terganggunya beberapa hal, yaitu:
1. Subjek kehilangan nafsu makan
2. Terjangkit penyakit maag
3. Kerap sakit kepala
4. Ekspresi wajah kusut dan tampak serius
b. Respon kognitif, meliputi semua proses aktivitas mental yang terjadi di otak, dapat terlihat dari terganggunya beberapa proses kognitif subjek, yaitu:
1. Subjek merasa cemas, khawatir dan takut
2. Tensi emosi tinggi (sering marah-marah)
c. Respon emosi, meliputi perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, yaitu:
1. Gangguan konsentrasi
2. Sering mengalami mimpi buruk
3. Insomnia (sulit tidur)
d. Respon tingkah laku, meliputi setiap tindakan manusia atau hewan yang dapat dilihat, yaitu:
1. Malas bekerja
2. Sering melamun
B. Saran-Saran
1. Secara Teoritik
a. Diharapkan ada penelitian lanjutan yang akan memperkaya khazanah gangguan stres akibat ketidak stabilan penataan lingkungan
b. Bagi peneliti lain yang mempunyai minat untuk mengakji masalah stress disarankan menggunakan paradigm psikologi lingkungan untuk menemukan faktor-faktor lingkungan yang dapat menjadi sebab gangguan stres
c. Diharapkan khususnya bagi psikolog bahwa dalam mendiagnosis gangguan stres metode observasi, wawancara mendalam (in-depht interviewe) dapat membantu dalam memberikan treatment kepada penderita gangguan stres
2. Secara Praksis
a. Bagi para warga yang menjadi korban penggusuran stren kali jagir diharapkan bisa memperlihatkan kebesaran hati dan kesabaran serta mempunyai keyakinan bahwa ditempat lain masih bisa mencari kehidupan yang lebih baik.
b. Bagi para warga yang berdomisili ditempat yang tidak mempunyai status hokum jelas mengenai tanah yang ditempati, maka diharapkan mempersiapkan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar